Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ibnu Hadjar: Pejuang Saat Usaha Merdeka, Dicap Pemberontak Saat Indonesia Sudah Merdeka

Riyad Dafhi Rizki • Kamis, 13 Februari 2025 | 09:22 WIB

Photo
Photo

Tahulah pian dengan Ibnu Hadjar? Sosok yang memiliki nama asli Haderi ini merupakan tokoh kontroversial dari Kalsel.

Figur ini dikenang sebagai pejuang yang membela tanah air. Namun dicap sebagai pemberontak oleh pemerintah setelah Indonesia merdeka.

Pria yang lahir pada 19 April 1920 di Desa Ambutun, Telaga Langsat, Hulu Sungai Selatan (HSS) ini disebut memiliki watak yang keras, suka berkelahi, dan selalu menjadi jagoan utama dalam setiap percekcokan. Ini sebagaimana tercatat dalam Buku Sedjarah TNI Angkatan Darat, 1945-1965.

Baca Juga: Tugu Pahlawan Kotabaru

"Dia tidak memiliki latarbelakang pendidikan tinggi. Bekerja sebagai petani dan mencari madu sebelum zaman pendudukan Jepang," kata sejarawan Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya, Muhammad Iqbal, Rabu (12/2).

Revolusi Indonesia yang meletus pada tahun 1945-1949 menjadi titik balik bagi Haderi. Ia bergabung dengan Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan, sebuah unit militer yang berperan penting dalam perlawanan terhadap Belanda.

"Pada momen inilah ia mengubah namanya menjadi Ibnu Hadjar, yang menandai babak baru dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang pejuang," katanya.

Baca Juga: Pasukan Parang Bungkul, Mata-Mata Penjajah Belanda di Banua

Pasca-perjanjian Linggarjati tahun 1946, yang secara de facto hanya mengakui Sumatera, Jawa, dan Madura sebagai wilayah Indonesia, memicu kekecewaan besar di kalangan pejuang Kalimantan. "Meskipun demikian, para gerilyawan tetap bersetia pada Indonesia dan melanjutkan perlawanan," katanya.

Tim Ahli Cagar Budaya HSS, Ahmad Ali Rendra mengatakan Ibnu Hadjar tergabung dalam Pasukan Jibbaku (barisan berani mati). Satuan ini di bawah komando Divisi IV ALRI yang dibentuk oleh Letkol Hassan Basry untuk memenuhi kekurangan senjata dan amunisi.

“Pasukan ini dilatih untuk melumpuhkan lawan dengan cepat menggunakan belati atau senjata tajam lainnya, lalu merampas senjata dari tentara Belanda yang sedang berpatroli," kata kurator Museum Rakyat HSS itu.

Baca Juga: Batimung, Pengobatan Tradisional yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda Asal Tapin

Operasi pasukan ini sangat efektif. Bahkan, membuat tentara Belanda ketakutan dan enggan keluar dari tangsi mereka, kecuali dalam jumlah besar.

Pasukan Jibbaku kemudian berkembang menjadi kekuatan utama dari Inti Selatan, dengan wilayah operasi mencakup Kandangan, Rantau, dan Nagara.

Awalnya, pasukan ini dipimpin oleh Marufi Utir. Sementara Ibnu Hadjar menjabat sebagai wakilnya.

Namun, ketika Marufi Utir dipindahkan ke urusan teritorial, Ibnu Hadjar mengambil alih posisi sebagai komandan. Didampingi oleh Samideri Dumam sebagai wakil komandan, serta Andi Tajang yang turut memperkuat struktur kepemimpinan.

Di bawah kepemimpinan Ibnu Hadjar, pasukan ini semakin solid dan mampu menunjukkan keberanian serta taktik perang gerilya yang efektif di medan berat Kalimantan Selatan. Dalam perkembangannya, pasukan ini menjadi satuan yang dikenal sebagai Yon Mobile Divisi di bawah komando Markas Daerah x-18 Amandit.

Baca Juga: Pasukan Parang Bungkul, Mata-Mata Penjajah Belanda di Banua

Terdiri dari tiga regu yang dipimpin oleh Samideri Dumam, Sani, dan Mawardi Ali. Pasukan ini dikenal memiliki daya jelajah besar, dan sering melakukan aksi heroik seperti penghadangan di Bamban pada Oktober 1948, penyergapan di perkebunan karet Martapura pada April 1949, hingga pertempuran besar di Nagara dan Kandangan pada Mei 1949.

Mereka juga berperan penting dalam pengamanan Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan pada 17 Mei 1949. "Proklamasi ini merupakan penegasan bahwa Kalimantan merupakan bagian dari Indonesia, meski Kalimantan berstatus daerah pendudukan Belanda," katanya.

Pada Agustus 1949, Pasukan Yon Mobile terlibat dalam pertempuran besar di garis demarkasi Desa Karang Jawa. Ketegangan ini memuncak ketika Divisi IV ALRI menyerukan pengosongan pusat Kota Kandangan dan memasuki wilayah demarkasi di wilayah kekuasaan ALRI (republik). Sebab mereka yang tetap berada dalam kota bisa dianggap sebagai musuh, terlebih yang berstatus pegawai pemerintah Belanda.

Baca Juga: Pangeran Muhammad Noor, Menteri Pekerjaan Umum Jaman Presiden Soekarno

Akhirnya, pada 2 September 1949, kedua pihak menyepakati gencatan senjata di Munggu Raya, Kandangan, dengan mediasi delegasi Republik Indonesia dan UNCI dari PBB.

Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia, dan bersedia angkat kaki pada 27 Desember 1949. Setelah kedaulatan Indonesia diakui pada akhir 1949, babak baru dimulai bagi Ibnu Hadjar yang saat itu berpangkat Letnan Dua.

Masa ini menjadi titik kritis bagi para pejuang gerilya Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan, termasuk dirinya. Apalagi pemerintah mulai melakukan rasionalisasi pasukan bersenjata untuk bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).

Baca Juga: Panjangnya Cuma 97 Meter, Inilah Jalan Terpendek di Kabupaten HSU, Ditempuh dengan Jalan Kaki Cuma Satu Setengah Menit

Rasionalisasi ini tidak mudah. Ribuan gerilyawan yang sebelumnya tergabung dalam Divisi IV ALRI harus memilih antara melanjutkan karir militer, atau kembali ke masyarakat sipil.

Namun, menjadi bagian dari APRI tidak hanya sekadar kehormatan, tetapi juga memerlukan pemenuhan berbagai persyaratan teknis militer.

Banyak mantan pejuang yang akhirnya dikembalikan ke masyarakat dengan hanya membawa sepotong kain, selembar surat penghargaan, dan sejumlah kecil uang.
Situasi ini diperburuk oleh dampak Undang-Undang Darurat No. 4 Tahun 1950, yang mengintegrasikan pasukan KNIL—tentara bentukan Belanda—ke dalam APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat).

Pada 28 Januari 1950, Letkol Sukanda Bratamenggala mantan anggota KNIL, menerima dua kompi eks-KNIL di bawah komando Letnan Sualang dan Letnan Kotton. Ironisnya, sebagian besar mantan prajurit KNIL yang bergabung dengan APRIS justru memperoleh pangkat tinggi.

Sementara banyak pejuang gerilya yang selama ini berjuang mati-matian melawan Belanda, hanya mendapatkan pangkat rendah. Bahkan hanya menjadi prajurit biasa. "Bagi para gerilyawan di Kalimantan, situasi ini mungkin seperti pil pahit yang sulit diterima, "kata Rendra.

KNIL yang selama ini menjadi musuh utama dalam perjuangan kemerdekaan, telah berada di posisi komando atas mereka. Perasaan dilecehkan ini menjadi pemicu pergolakan besar, terutama di kalangan para pejuang yang merasa jasa mereka dihilangkan (Wajidi, Tengkorak Putih).

Baca Juga: Pasukan Parang Bungkul, Mata-Mata Penjajah Belanda di Banua

Ibnu Hadjar adalah salah satu yang tidak bisa menerima situasi ini. Taufik Abdullah dalam Sejarah Umat Islam Indonesia menyebut Ibnu Hadjar sebenarnya tidak termasuk golongan yang ditolak masuk APRIS.

Kekesalannya muncul karena bersimpati kepada para gerilyawan lain yang seakan 'dibuang' begitu saja oleh kebijakan pemerintah. Pada tahun 1950, usai menjalankan tugas di Pontianak, ia melakukan desersi dari kesatuannya.

Ia tidak hanya meninggalkan tugas, juga membawa serta persenjataan militer dan membentuk sebuah pasukan baru yang dinamakan Kesatuan Rakyat jang Tertindas (KRjT). Pasukan ini terdiri dari mantan gerilyawan dan pejuang yang merasa dikecewakan oleh pemerintah. Mereka adalah orang-orang tidak hanya merasa diabaikan, tetapi juga dihina oleh sistem yang mereka perjuangkan mati-matian selama revolusi.

Baca Juga: Pangeran Muhammad Noor, Menteri Pekerjaan Umum Jaman Presiden Soekarno

Dalam buku Kisah Gerilya Kalimantan Bagian II yang ditulis oleh Letkol Hassan Basry, disebutkan bahwa KRjT muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan dan kekecewaan mendalam yang dirasakan para mantan pejuang.

Ibnu Hadjar, dengan karisma dan pengaruhnya, berhasil menyatukan mereka menjadi kekuatan bersenjata baru yang mencerminkan perlawanan terhadap ketidakadilan dirasakan kawan-kawannya.

"Kini mereka berhadapan langsung dengan tentara Indonesia yang sebagian diisi oleh mantan KNIL. Cara mereka melawan masih sama, yakni keluar-masuk hutan, dan membuat gangguan," tulis Muhammad Iqbal dalam jurnal Pemberontakan KRjT di Kalimantan Selatan (1950-1963).

Baca Juga: Kiai Amir Hasan Bondan: Penulis Banua yang Punya Dampak Besar Dalam Kepenulisan Sejarah Banjar

Akibat langkahnya ini, Ibnu Hadjar dianggap sebagai salah satu pemberontak di Bumi Lambung Mangkurat.

Rendra menjelaskan gerakan bersenjata ini tidak hanya dilakukan oleh Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT) pimpinan Ibnu Hadjar, tetapi juga oleh kelompok-kelompok lain yang turut memperkeruh keadaan. "Namun, nama Ibnu Hadjar sebagai tokoh besar dalam masa gerilya tetap lebih menonjol dibandingkan yang lainnya," kata Ahmad Ali, Kurator Museum Rakyat Hulu Sungai Selatan.

Sejarah Ibnu Hadjar dalam benak masyarakat Kalsel beragam dan penuh nuansa. Ada yang mengaitkan namanya dengan kenangan kolektif yang kelam, terutama terkait peristiwa "pemberontakan", serta aksi kelompok bersenjata setelah revolusi. Di sisi lain, banyak yang justru mengingatnya sebagai sosok heroik yang berperan besar dalam perjuangan fisik melawan penjajah.

Nama Ibnu Hadjar juga abadi dalam sejarah revolusi fisik di Kalimantan Selatan. Pada tugu perumusan Naskah 17 Mei 1949 di Telaga Langsat, namanya terukir sebagai salah satu simbol pengingat perjuangan.

Monumen itu menjadi saksi bisu atas dedikasi Ibnu Hadjar dan para pejuang lainnya yang rela berkorban demi kemerdekaan Indonesia.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tokoh #belanda #kontroversial #Ibnu Hajar #Tahulah Pian #Sejarah