Selain kerbau rawa dan itik Alabio menjadi hewan unik dari Kabupaten Hulu Sungai Utara, ternyata ada satu jenis cacing yang juga endemik hidup di perairan rawa daerah ini. Nama cacing tersebut yakni Fasciolopsis Buski atau Cacing Buski.
Cacing ini pertama kali ditemukan di Kabupaten HSU pada tahun 1982. Bahkan menjadi kasus pertama di Indonesia.
Saat itu, cacing yang hidup di perairan rawa tersebut ditemukan berada di tiga kecamatan yakni Sungai Pandan, Danau Panggang, dan Babirik. Dari tiga kecamatan tersebut, cacing ini ditemukan di Desa Sungai Papuyu dan Kalumpang Dalam berada di Kecamatan Babirik. Buski saat itu juga ditemukan di Desa Sarang Burung dan Telaga Mas, Bararawa dan Sapala di Kecamatan Danau Panggang.
Namun saat ini, dua desa yakni Bararawa dan Sapala sudah menjadi bagian dari Kecamatan Paminggir setelah pemekaran kecamatan.
Kasus juga ditemukan di Desa Putat Atas di Kecamatan Sungai Pandan atau lebih dikenal Alabio. Kini, Cacing Buski tinggal kenangan seiring meningkatnya kualitas sanitasi masyarakat di Kabupaten HSU.
Kabag Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (PPP) dari Dinkes HSU, Fajeri mengatakan cacing ini memang pernah heboh se-Indonesia. Sebab hanya ditemukan di wilayah Kabupaten HSU.
“Awal ditemukan kasus Cacing Buski pada warga pada tahun 1982 atau sekitar 43 tahun lalu. Yang terjangkit lebih didominasi kalangan anak-anak dan remaja,” ujar Fajeri mewakili Kadinkes HSU dr Moch Yandi Friyadi, Selasa (11/2/2025).
Fajeri mengaku cacing ini berkembang biak di dalam usus manusia dan hewan. Namun, tidak mematikan.
Meski begitu, dapat memengaruhi terhadap kesehatan penderita Buski, khususnya kecerdasan anak-anak. Penderitanya juga rentan anemia atau kekurangan darah dan berdampak pada daya tahan tubuh. “Cacing ini bisa bersarang di tumbuhan seperti Teratai maupun tumbuhan di perairan rawa di Kecamatan Danau Panggang, Paminggir dan Babirik,” terangnya.
Gara-gara kasus ini, Dinas Kesehatan terus melakukan upaya promosi kesehatan, termasuk menyadarkan agar tidak melakukan MCK (mandi cuci kakus) di sungai maupun rawa di daerah itu. “Jadi, masyarakat saat itu mulai dibangun fasilitas sanitasi dan air bersih, termasuk toilet untuk buang air besar agar tidak buang air besar di rawa maupun sungai,” sampainya.
Imbauan juga disampaikan kepada kaum wanita agar tidak mencuci piring maupun mencuci sayur mayur di aliran rawa. Soalnya, bisa terkontaminasi cacing jenis ini. “Jadi Cacing Buski bisa berkembang biak di dalam usus manusia termasuk hewan seperti sapi, kerbau, kambing, kucing anjing dan babi,” ingatnya.
Buski berbentuk pipih seperti lintah atau pacet dan berwarna putih. Warga juga bisa terinfeksi cacing ini karena memakan tumbuhan air yang mentah atau tidak dimasak sampai matang.
“Seiring berkembangnya waktu dan meningkatnya sanitasi masyarakat, terakhir cacing ini terpantau pada tahun 2015 lalu. Saat ini, tidak ada laporan lagi warga yang terjangkit cacing Buski,” lengkapnya.
Meskipun begitu, masyarakat di kawasan rawa tetap diminta terus meningkatkan kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat agar tidak terjadi lagi kasus Cacing Buski di daerah ini.
Warga HSU, Dony mengaku baru mendengar ternyata di daerah ini pernah ditemukan Cacing Buski, dan tidak pernah ditemukan di daerah lain.
“Asli baru dengar. Jadi takut memakan makanan yang kurang matang,” ungkap pria berprofesi polisi tersebut.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief