Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tamban, Dulunya Hunian Orang Jawa yang Diasingkan Belanda

Maulana Radar Banjarmasin • Selasa, 11 Februari 2025 | 06:56 WIB
Photo
Photo

Tahulah Pian, sejarah tentang Tamban? Salah satu kecamatan di Kabupaten Barito Kuala (Batola) ini sarat dengan sejarah. Permukiman ini ternyata sudah ada sejak masa penjajahan Belanda.

Kepala Desa Purwosari Baru, Sujinal menceritakan permukiman di Kecamatan Tamban ini awalnya dihuni sejumlah kelompok dari masyarakat dari Pulau Jawa. Mereka diasingkan oleh Belanda ke sejumlah pulau, termasuk Pulau Kalimantan. Salah satunya ke wilayah yang sekarang dinamakan Tamban.

"Jadi mereka yang diasingkan ke daerah ini disebut Transkolonisasi oleh penjajah. Mereka itu diasingkan karena melawan Belanda,” cerita Sujinal.

Dikirim ke Tamban, dibekali sembako untuk bertahan selama 2 bulan. Dikasih lahan, dan diberikan 15 lembar atap kajang untuk membuat rumah. “Jadi, mereka tinggal dengan atap dan dinding kajang," ungkapnya.

Memasuki lokasi ini hanya bisa ditempuh menggunakan jalur sungai. Menaiki sampan. Kiri dan kanan sungai semuanya hutan belantara.

"Selain dibekali sembako dan peralatan untuk membuat rumah, mereka dikasih lahan. Sesukanya, semampunya untuk menggarap hutan,” tambahnya.

Jadi siapa yang kuat mental dan gigih, itu bisa bertahan. Mau mati atau hidup, tergantung mereka. “Untungnya mereka yang diasingkan ini mentalnya kuat dan mampu bertahan," kata Sujinal.

Pengiriman transkolonisasi itu pertama tahun 1937, kemudian 1938, dan 1940. Lima tahun sebelum Indonesia merdeka. "Jadi ada tiga tahap, pengiriman diasingkan. Tapi, saya lupa berapa jumlah orang yang diasingkan ke sini," katanya.

Seiring waktu, permukiman semakin berkembang. Akhirnya wilayah tersebut menjadi ramai. Apalagi keluarga yang ada di Pulau Jawa satu persatu berdatangan, karena diajak oleh mereka yang telah diasingkan tadi.

"Lahan di sini sangat mendukung, dan cocok untuk digarap lahan pertanian, perkebunan, dan lainnya. Ikan-ikan juga mudah dicari berbagai jenis," tuturnya.

Sujinal merupakan keturunan ke-5. Salah satu keluarganya diajak oleh sekumpulan orang yang diasingkan.

"Pertama ke sini saudara ayah saya. Lalu dia mengajak ayah kami ke sini, dan seiring waktu beranak pinak,” jelasnya. “Mereka yang ke sini dari Jawa Timur. Ada yang dari Tulungagung dan Blitar," kisahnya.

Lokasi pertama transkolonisasi itu terletak di Km 4 Tamban. Sekarang dijadikan Kantor Kecamatan Tamban. Terdapat lapangan Bola Karya Raya. "Dulu namanya Tamban saja, dan desa tertua Purwosari 1. Kemudian setelah pemekaran menjadi 16 desa se-Kecamatan Tamban,” sebutnya.

Tidak ada tanda khusus atau tanda sejarah di Tambah. “Hanya lapangan. Itu saja peninggalannya," bandingnya.

Sujinal menceritakan kenapa dinamakan Tamban? Tamban itu diambil dari kata Tambahan. Di masa itu dari hanya dihuni sejumlah orang yang telah diasingkan oleh penjajah, seiring waktu daerah ini tumbuh pesat dengan permukiman, karena banyak berdatangan keluarga yang telah diasingkan tersebut.

"Lalu melekatlah jadi nama Tamban, diambil dari kata Tambahan itu. Sekarang menjadi nama Kecamatan Tamban," tuntasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#belanda #Tahulah Pian #barito kuala #Sejarah