Tahulah pian gangan haliling? Keong kecil yang juga disebut tutut ini menjadi santapan lezat bagi orang Banjar.
Haliling bernama latin Filopaludina Javanica. Hidupnya di tepian kolam atau sawah. Biasanya diburu oleh warga sekitar untuk dikonsumsi atau dijual.
Haliling berbentuk seperti keong, bercangkang keras dan berwarna hitam. Keunikannya ada pada ukurannya yang mini.
Salah seorang pedagang masakan khas Banjar, Ena mengatakan haliling menjadi salah satu menu spesial dalam jajaran masakan khas Banjar. “Karena memperolehnya tidak mudah, haliling tidak selalu tersedia di pasar tradisional,” ujar warga Banjarmasin Timur itu.
Setidaknya ada dua jenis masakan haliling yang populer di Kalimantan Selatan. Pertama, haliling sambal kuning. Sambal kuning ini sama dengan bumbu yang dipakai untuk masakan gangan asam. Rempahnya terdiri dari bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit dan sereh.
Menu kedua, haliling masak balamak. Bumbu utamanya tak berbeda jauh dengan menu sebelumnya. Perbedaannya ada pada tambahan santan kelapa.
“Sehingga rasanya lebih gurih dan menggugah selera. Apalagi untuk penyuka kuliner Banjar,” ujar Ena.
Haliling biasanya dibersihkan dengan membuang atau memotong bagian ujungnya. Setelah dicuci berkali-kali, keong ini direbus sebentar, lalu tiriskan. “Haliling yang sudah tiris dimasukkan ke wajan berisi tumisan bumbu halus. Aduk, lalu beri air atau santan, dan diamkan hingga mendidih,” jelasnya.
Garam, micin dan gula menjadi penyempurna rasa. Sesuaikan dengan selera masing-masing.
Masakan ini biasanya disantap pada saat makan siang. Kuahnya disiramkan ke nasi panas, dan isi haliling keluarkan dengan cara diisap.
“Sensasi uniknya justru saat mengisap cangkang agar isi halilingnya keluar, dan dimakan bersama nasi,” tutupnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief