Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pasukan Parang Bungkul, Mata-Mata Penjajah Belanda di Banua

M Fadlan Zakiri • Kamis, 30 Januari 2025 | 11:02 WIB
MENYUSUP: Pasukan Parang Bungkul adalah mata-mata penjajah yang diambil dari pribumi pro Belanda. (KITLV)
MENYUSUP: Pasukan Parang Bungkul adalah mata-mata penjajah yang diambil dari pribumi pro Belanda. (KITLV)

Segala cara dilakukan Belanda demi mempertahankan wilayah jajahannya. Termasuk dengan menaruh mata-mata di barisan pejuang kemerdekaan di Banua.

Hal tersebut diketahui merupakan salah satu fakta sejarah belum banyak orang. Penamaan pasukan mata-mata ini bahkan menggunakan nama senjata tradisional khas masyarakat Banjar. Parang Bungkul.

Pemerhati Sejarah Kalsel, Adytia Riswan Effendy menceritakan bahwa dalam konteks perang revolusi fisik di Kalimantan Selatan, peran spionase militer Belanda merupakan hal yang sangat krusial.

Baca Juga: Pangeran Muhammad Noor, Menteri Pekerjaan Umum Jaman Presiden Soekarno

Mereka berusaha mengendalikan pejuang lokal. Bahkan militer Belanda mengembangkan jaringan intelijen yang kuat untuk mengawasi aktivitas prajurit. “Strategi spionase ini dipakai Belanda sejak era kolonialisme untuk menjaga kekuasaannya, termasuk di Banua,” ungkap Aditya.

Pasukan mata-mata penjajah ini, kata Aditya, terbentuk pada era revolusi fisik di Kalimantan Selatan. Belanda membentuk Partai Anti Indonesia Merdeka (PAIM) yang pasukannya bernama “Barisan Parang Bungkul” pada tahun 1940-an.

“PAIM ini diketuai oleh Kiai Besar Nadalsjah (Afdeling Hoeloe Soengai), dan ditunjuk langsung untuk menghadapi gerakan perlawanan masyarakat Banua,” jelas Aditya.

Baca Juga: Barajah, Tradisi Banjar yang Dipercaya Punya Fungsi Khusus, Akultusari Budaya Lokal dan Islam

Selain Parang Bungkul, ada dua pasukan lain yang juga berada di bawah komando Kiai Besar Nadalsjah. Pasukan Kucing Hitam dan Pasukan Laung (bukan Ormas Laung Kuning, red), yang berisi orang-orang pribumi Kalimantan pro Belanda kontra republiken, dan sangat bengis.

Anggota PAIM bertugas sebagai penunjuk jalan, mengumpulkan informasi, dan mengoordinasikan aktivis pergerakan lokal. Hasil penyusupan itu kemudian dilaporkan kepada pasukan Administrasi Sipil Hindia Belanda (NICA) atau militer Pemerintahan Sipil Hindia Belanda di Banua.

Bertujuan untuk membersihkan benih-benih perjuangan yang berasal dari Markas Pertahanan Kalimantan ALRI Divisi IV. Tepatnya gerakan pejuang yang dipimpin oleh Said Ali Sayuti (nama samaran Hasan Basry).

Baca Juga: 15 Jimat di Kalangan Masyarakat Banjar, Apa Saja?

“MPK ALRI Divisi IV ini mereka anggap sebagai pengacau. Apalagi NICA menyebut orang-orang di gerakan itu sebagai ekstremis dan komplotan pemberontak,” beber Aditya.

Sehingga, keberadaan Anggota PAIM dengan Pasukan Parang Bungkulnya, menjadi kunci taktik NICA untuk mempertahankan kekuasaan di wilayah Kalimantan Selatan.

Pasukan Parang Bungkul ini berdiri karena hasutan NICA kepada para pribumi Kalimantan, yang mengatakan bahwa gerombolan ekstremis tersebut akan menggerakkan harta, benda, dan jiwa, terutama orang Dayak dan orang Kristen.

“Oleh karena itu, mereka (pribumi yang terhasut) siap dipersenjatai Belanda untuk mempertahan diri,” bebernya.

Pengawasan yang dilakukan oleh Pasukan Parang Bungkul berdampak signifikan pada strategi pejuang. Dengan informasi yang diperoleh, NICA mampu melawan dan mengurangi kekuatan perlawanan ALRI Divisi IV. “Akibatnya, saat itu terjadi komunitas aktivis lokal,” katanya.

Baca Juga: Selain Seribu Sungai, Banjarmasin Juga Disebut Seribu Langgar, Bahkan Sejak Zaman Kesultanan

Kondisi ini disebabkan oleh gerakan Pasukan Parang Bungkul yang menyusup sampai ke daerah Pegunungan Meratus, dan selalu memata-matai setiap gerakan-gerik rakyat.

Dengan siasat liciknya itulah Belanda berusaha memecah belah kesatuan, dan mengadu domba antara rakyat dan ALRI Divisi IV. Supaya rakyat membenci ALRI Divisi IV yang bergerilya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Kalimantan Selatan.

Namun, siasat anti ALRI dan kontra gerilya yang disebar oleh Pasukan Parang Bungkul itu menghadapi kegagalan akibat perilaku bengis yang dilakukan anggota PAIM. Kegagalan ini terjadi sekitar tahun 1947-1449.

Baca Juga: Tahulah Pian, Paramasan Jadi Lokasi Persembunyian Demang Lehman dari Kejaran Belanda

Di era rakyat tersebut yang berada di pedalaman pegunungan dan desa terpencil, akhirnya tersadar dan menolak keberadaan anggota PAIM yang sering menyiksa dan membakar rumah rakyat, karena tidak mendapatkan informasi tentang pasukan ALRI Divisi IV.

Dalam catatan sejarah, tegas Aditya, dari sejumlah operasi yang dijalankan Pasukan Parang Bungkul, hanya dua di antaranya yang berhasil.

“Pertama, dalam pertempuran di Janggar di kaki Gunung Menteng (25 km dari Haruyan) pada tanggal 23 Desember 1947. Dan yang kedua penyusupan di kaki Gunung Ambilik,” tutupnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#belanda #penjajah #Tahulah Pian #Sejarah