Dalam kehidupan masyarakat Banjar, barajah telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Barajah merujuk pada benda-benda yang telah dirapal atau diberi tulisan, bacaan, maupun mantra khusus untuk tujuan tertentu.
Tradisi ini berkembang luas di masyarakat Banjar karena barajah dianggap memiliki banyak fungsi. Mulai dari penyembuhan penyakit, perlindungan diri, mendatangkan keberuntungan, hingga memperbaiki hubungan antarindividu.
Pandangan masyarakat Banjar ini juga tercermin dalam penelitian yang dipublikasikan LP2M UIN Antasari pada 2015. Penelitian yang ditulis oleh Arni, dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari itu mencatat bahwa benda-benda seperti baju, saputangan, tempurung, telur, cincin, dan gelang sering digunakan sebagai jimat.
Benda-benda ini biasanya dirajah dengan wafak, yaitu kumpulan tulisan huruf Arab yang diyakini memiliki kekuatan magis untuk memenuhi keinginan pemiliknya. Kepercayaan ini tidak lepas dari pengaruh keyakinan lokal yang melekat pada sebagian masyarakat Banjar. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa penggunaan jimat sering dikaitkan dengan hubungan kekerabatan dengan makhluk gaib.
Beberapa orang percaya memiliki saudara kembar yang gaib, atau silsilah terhubung dengan raja-raja masa lalu. Ada pula keyakinan tentang hubungan dengan buaya jelmaan, yang mendorong mereka untuk menggunakan benda bertuah sebagai bentuk perlindungan.
Asal muasal barajah berakar dari percampuran tradisi lokal dengan pengaruh ajaran luar, khususnya Islam. Sebelum Islam masuk, masyarakat lokal sudah mengenal praktik penggunaan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan gaib.
Dengan datangnya Islam, praktik tersebut mengalami akulturasi yang menggabungkan elemen-elemen ajaran Islam ke dalam tradisi lokal. Alhasil, praktik ini pun tumbuh secara natural dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang.
Langgengnya tradisi barajah juga tak lepas dari upaya manusia mencari jawaban atas persoalan-persoalan hidup yang melampaui batas akal dan pengetahuan. James George Frazer, antropolog berkebangsaan Skotlandia, dalam teori batas akalnya menjelaskan bahwa semakin terbelakang suatu kebudayaan manusia, semakin sempit pula batas akalnya.
Ketika akal dan pengetahuan tak mampu menjawab berbagai permasalahan, manusia cenderung beralih pada praktik magis dan ilmu gaib untuk mencari solusi dan jawaban.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief