Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Batimung, Pengobatan Tradisional yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda Asal Tapin

Rasidi Fadli • Kamis, 16 Januari 2025 | 10:12 WIB

 

MASUK WARISAN: Batimung masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) setelah didaftarkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tapin.
MASUK WARISAN: Batimung masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) setelah didaftarkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tapin.

Batimung merupakan suatu budaya pengobatan tradisional asal Kabupaten Tapin. Sekarang tradisi ini sudah masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2024 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Batimung masuk WBTB setelah diusulkan langsung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Tapin. Dari naskah yang dikirim oleh pegiat seni Tapin, MS Arif bahwa Batimung berasal dari kata timung yang bermakna menghimpun, kumpul, atau himpun menjadi satu.

Kemudian mendapatkan awalan kata ba sebagai penyebut kata kerja Timung. Padanan yang serupa dengan kata batimung, seperti kata kurung, karung, kampung, hembung, dan sebagainya yang di dalamnya mengandung makna menampung atau tertampung (Tim Penyusun, 1977:57; Saefuddin, dan Maryadi, 2017:41).

Batimung merupakan metode pengobatan dan kesehatan tradisional masyarakat Banjar dan Dayak Meratus yang dilakukan dengan mandi uap menggunakan rempah-rempah khas lokal. Adapun peralatan yang digunakan dalam batimung yaitu tikar purun, tapih bahalai, periuk atau kuantan tanah atau dalam perkembangannya menggunakan panci, pengaduk air, dan bangku pendek atau dingklik.

Dari segi pemanfaatannya, batimung dibagi menjadi dua. Batimung untuk tradisi, dan batimung untuk pengobatan.

Batimung tradisi erat kaitannya dengan upacara pengantin, dan menjadi salah satu rangkaian prosesi upacara perkawinan, serta menjadi metode masyarakat untuk melakukan perawatan tubuh. Batimung bagi pengantin dilakukan saat masa bapingit, atau menjelang dilaksanakannya waktu perkawinan dan si pengantin tidak diperbolehkan lagi secara bebas untuk bepergian keluar rumah.

Sebelum pengantin wanita dan laki-laki betatai atau bersanding di pelaminan, kedua pengantin terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan Batimung pada saat dua atau tiga hari sebelumnya. Tujuan dilakukan batimung adalah untuk mengeluarkan keringat sebanyak-banyaknya agar pada saat perkawinan tidak lagi berkeringat (Hendraswati, dkk, 2012:91).

Batimung dilakukan agar pengantin tidak mengeluarkan keringat berlebihan, dan sebaliknya akan mengeluarkan bau-bauan wangi pada saat betatai dan menemui tamu yang datang. Kadang-kadang batimung ini dilakukan sampai 3 malam berturut-turut, baik bagi pengantin pria maupun wanita (Seman, 2021:5).

Ramuan batimung tradisi berbeda dengan ramuan batimung pengobatan karena dikhususkan untuk perawatan. Merujuk dari tulisan Saefuddin dan Maryadi, (2017:41), dan Putri (2015) disebutkan beberapa tahapan proses dalam batimung. Tahapan-tahapan ini serupa dilakukan dalam pelaksanaan batimung tradisi dan batimung pengobatan.

Mulai mencari ramuan-ramuan. Ada perbedaan ramuan yang digunakan dalam batimung tradisi dan pengobatan. Batimung tradisi menggunakan daun-daun obat tradisional seperti daun serai, daun lengkuas, daun wangi-wangian pandan atau pundak, asap dupa, dan lain-lain. Sedangkan ramuan untuk batimung basah pengobatan Dayak Meratus yaitu daun sungkai, daun sasambung, daun balik angina, daun kunyit, daun gulinggang, daun tandui, daun taramba bias, daun halaban, dan daun tatawar.

Untuk batimung batu pengobatan Dayak Meratus, adapun ramuannya yaitu daun sungkai, daun sasambung, daun balik angina, daun kunyit, daun gulinggang, daun tandui, daun teramba bias, daun halaban, dan daun tatawar.

Ramuan untuk batimung pengobatan masyarakat Banjar, yaitu akar dan daun tanaman tibarau, daun pandan, gula batu soda, serpihan susuk rumah dari kayu ulin, dan akar riu-riu.

Masyarakat melakukan batimung pengobatan dengan tujuan menyembuhkan jenis-jenis penyakit tertentu. Kebanyakan dilakukan oleh masyarakat Dayak Meratus dan Banjar. Perbedaan di antara keduanya terdapat pada jenis ramuan, dan jenis penyakit yang dapat diobati.

Pada masyarakat Dayak Meratus, dalam pelaksanaan Batimung digunakan tumbuhan ramuan yang diambil dari wilayah hutan, dan dimanfaatkan untuk mengobati sakit wisa, sangga, sakit tulang dan tipus.

Sedangkan pada masyarakat Banjar digunakan tumbuhan ramuan dari lingkungan sekitar rumahnya, dan dimanfaatkan untuk mengobati sakit wisa.

Orang yang membantu proses batimung oleh masyarakat Banjar disebut sebagai panimungan. Sedangkan oleh masyarakat Dayak Meratus dibantu oleh balian.

Sakit wisa merupakan sebutan masyarakat Banjar dan Dayak Meratus terhadap sakit kuning atau liver; atau sakit yang disebabkan oleh manusia atau datang dari tanah dan air. Seperti penambang emas yang mendapatkan penyakitnya dari lingkungan kerjanya.

Biasanya orang yang terkena wisa akan merasakan tidak memiliki nafsu makan; warna kulit, mata, dan kuku yang berubah menjadi warna kekuningan; badan lemah lunglai; dan badan meriap dingin atau meriang, menggigil di waktu-waktu tertentu.

Dalam catatan Saefuddin dan Maryadi (2017:66) diuraikan bahwa menurut balian adat Dayak Meratus, sangga ini lebih kuat dari wisa. Bagi masyarakat Dayak Meratus, sangga diletakkan oleh orang tua dahulu dan terdapat di sekitar pohon-pohon yang ada di hutan ketika turun hujan.

Hal ini dimaksudkan untuk melindungi pohon dan ladang agar tidak diganggu. Ketika pohon ini besar dan tinggi, sangga yang tadinya diletakkan di bagian bawah pada saat pohon kecil seiring pertumbuhan pohon ikut naik ke atas. Ketika hujan, air yang di atas menetes dan bagi berteduh di bawahnya akan menghirup atau kena air tersebut. Dari situlah orang akan terkena sangga.

Batimung pengobatan yang dilakukan oleh Masyarakat Dayak Meratus dan Banjar, dilihat dari prosesnya terbagi menjadi dua bagian. Timung basah dan timung kering. Pembagian ini didasarkan pada media yang dipakai dalam prosesnya. Timung basah prosesnya memakai media air. Sebaliknya timung kering tidak menggunakan media air.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Budaya #wbtb #Tahulah Pian #Tapin #tradisional #pengobatan