Tahulah pian, di kalangan masyarakat Banjar, terdapat 15 jenis jimat yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Informasi ini berasal dari penelitian berjudul "Jimat dalam Konsep Magis Masyarakat Banjar" (1999) yang ditulis oleh M Nur Maksum, Fahmy Al-Amruzy, dan Nor Ipansyah dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari.
Mulai dari Jimat Rumah untuk melindungi rumah dari marabahaya. Jimat Penglaris untuk menarik pelanggan dalam usaha berdagang. Jimat Perkasih untuk membangun hubungan asmara. Jimat Tambang Liring untuk membuat pemakainya mudah dicintai.
Jimat Anak/Sawan untuk menjaga kesehatan anak dari penyakit. Jimat Heikal Sembilan untuk perlindungan. Selain itu, ada Jimat Cemeti untuk menghindarkan dari bahaya dan pertahanan diri. Jimat Baju Berajah untuk memberi perlindungan saat dikenakan.
Jimat Pancar Merah untuk menambah karisma dan keberanian. Jimat Pintu Rezeki untuk membuka pintu-pintu rezeki. Jimat Isim Jariyah untuk meningkatkan rasa cinta seseorang. Jimat Muara Lawang untuk menjaga keselamatan rumah.
Tak ketinggalan Jimat Kebun untuk melindungi hasil pertanian atau kebun. Jimat Sangu Mati sebagai bekal spiritual untuk akhirat, dan Jimat Ayat Kursi untuk keselamatan diri.
Wilayah seperti Desa Lokgabang, Kampung Melayu, Sungai Batang, dan Dalam Pagar di Kabupaten Banjar dikenal sebagai pusat pembuatan jimat. Para pembuat jimat umumnya adalah mereka yang ahli ibadah dan telah mendapatkan "mandat" dari guru setelah mempelajari kitab perajahan seperti Kitab Syamsul Ma'arif Al Kubra atau Kitab Mujarabat.
Pembuatan jimat membutuhkan persiapan spiritual yang matang. Menurut cerita, jimat tidak bisa dibuat serampangan. Jika itu dilakukan, si pembuat bisa mengalami kegilaan.
Pembuat jimat harus menyucikan diri, melaksanakan salat sunnah, dan berdoa sebelum memulai aktivitas. Waktu pembuatannya juga dipilih secara khusus untuk memastikan keberhasilan.
Meskipun jimat dipercaya memiliki kekuatan magis, masyarakat Banjar pada dasarnya tetap meyakini bahwa kekuatan sejati datang dari Allah. Penggunaan jimat dianggap sebagai bentuk ikhtiar, sebagaimana dijelaskan oleh Alfani Daud dalam Islam dan Masyarakat Banjar (1990).
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief