Tahulah pian, olahraga tradisional lomba jukung telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Kalsel. Berasal dari tradisi kehidupan masyarakat sungai, lomba jukung berkembang menjadi salah satu olahraga rekreasi yang diminati. Bahkan dipertandingkan di berbagai ajang nasional.
Lomba jukung berakar dari kehidupan masyarakat Banjar yang sehari-hari menggunakan jukung (perahu tradisional) sebagai alat transportasi dan alat bantu ekonomi. Seperti untuk berdagang di pasar terapung, atau memancing.
Tradisi ini kemudian diadaptasi menjadi perlombaan untuk merayakan kebersamaan dalam acara adat dan hari besar, seperti Maulid Nabi dan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Pada awalnya, lomba jukung hanya diadakan secara sederhana, dengan perahu tradisional tanpa modifikasi dan pendayung dari kalangan masyarakat sekitar.
Lambat laun, lomba ini mulai dilirik oleh pemerintah daerah untuk dijadikan atraksi wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara.
Kini, lomba jukung tidak lagi sekadar tradisi. Namun, juga bagian dari olahraga rekreasi yang dipromosikan oleh KORMI.
Perlombaan ini berkembang dengan sistem aturan yang lebih profesional, seperti penentuan kategori lomba berdasarkan jenis jukung, jumlah pendayung, dan jarak tempuh.
Pemprov Kalsel secara aktif mempromosikan lomba jukung melalui festival tahunan, seperti Festival Budaya Banjar dan acara olahraga rekreasi tingkat nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, lomba ini telah menjadi daya tarik utama Festival Sungai Martapura, sebuah event besar yang mengangkat budaya sungai khas Kalimantan Selatan.
Kabid Pembudayaan dan Olahraga Dispora Kalsel, Budiono menyatakan bahwa lomba jukung adalah cerminan kehidupan masyarakat Banjar yang kaya akan nilai gotong royong dan ketangguhan.
"Lomba jukung bukan hanya olahraga, juga representasi budaya sungai masyarakat Banjar yang harus kita lestarikan. Kami di Dispora bersama KORMI terus mendorong agar lomba ini semakin dikenal, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Kami berkomitmen untuk menjadikan lomba jukung sebagai ikon olahraga rekreasi Kalsel," ujar Budiono.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah telah menggandeng berbagai pihak, termasuk komunitas olahraga dan pariwisata untuk meningkatkan kualitas lomba jukung, baik dari segi penyelenggaraan maupun fasilitas.
"Kami berharap, lomba jukung tidak hanya menjadi hiburan rakyat. Tapi, juga memberikan dampak ekonomi, terutama bagi pelaku usaha lokal di sekitar sungai yang menjadi lokasi lomba," tambahnya.
Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, lomba jukung diharapkan dapat terus berkembang sebagai warisan budaya yang hidup. "Ini bukan hanya soal melestarikan budaya, juga soal membangun identitas dan kebanggaan masyarakat Kalsel," tutup Budiono.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief