Suku Bajau Samah yang terkenal di Bumi Sa-Ijaan ternyata ada perkumpulannya. Perkumpulan ini tidak hanya menaungi suku yang tinggal di pesisir Kotabaru saja, tapi juga seluruh Indonesia.
POSBI adalah akronim dari Perkumpulan Same (Samah) Bajau Indonesia. Kepengurusannya dari jenjang pusat yaitu DPP POSBI yang diketuai oleh Erni Bajau. Ia adalah Ketua DPD POSBI Kalsel yang ada di Kotabaru.
POSBI ini di tingkat pusat dibentuk tahun 2020. Sedangkan di Kalsel baru terbentuk di tahun 2024 dengan terbitnya SK dari DPP POSBI.
POSBI sudah pernah kumpul pada Desember 2024 lalu, di Luwuk Banggai Sulteng dalam acara Kongres Suku Bajau se Indonesia dalam acara Festival Lipu Celebes. Di situ hadir jaringan POSBI yang ada di Indonesia dari 12 provinsi. Mulai Jawa Timur, Jakarta, Sulteng, Sulbar, Sulsel, Kaltim, Kaltara, Kalsel, Maluku, NTB, NTT, Sultra.
Selain itu, juga dihadiri dari Suku Bajau Samah dari luar negeri. Di antaranya Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand. “Saat pertemuan itu, yang dibahas tentang kearifan lokal adat istiadat, konservasi budayanya dalam hal ini benda bersejarah peninggalan bahari,” ungkap Sukma Jaya selaku Ketua Pimpinan Daerah POSBI Provinsi Kalimantan Selatan, Minggu (5/1) sore.
Mengenai tujuannya POSBI ini, Sukma menjawab sangat banyak. Selain untuk perkumpulan, juga sebagai wadah untuk memfasilitasi masyarakat Suku Bajau Samah yang ada di Indonesia.
Terkait anggotanya, khusus masyarakat Suku Bajau Samah di Kotabaru jumlahnya ada sekitar 20.000 orang. Ini tersebar di empat wilayah. Di antaranya Desa Rampa Lama di Kecamatan Pulau Laut Utara, Rampa Baru di Desa Semayap yang juga Pulau Laut Utara, Rampa Sungai Bali di Kecamatan Pulau Sebuku, dan Rampa Cengal di Kecamatan Pamukan Selatan. “Sekarang kami lagi mengusahakan pembentukan PAC di empat wilayah. Supaya di kemudian hari koordinasi dan lain-lain lebih mudah,” ungkapnya.
Dari upaya pembentukan tersebut, data yang sudah masuk Rampa Lama dan Rampa Cengal sudah 9.000 orang. Sedangkan dari Rampa Baru dan Rampa Sungai Bali belum masuk datanya.
“Mungkin banyak penasaran, kenapa di Kalsel juga ada POSBI? Ini adalah sebuah upaya mengangkat kebudayaan Bajau Samah yang hampir punah. Sekaligus agar masyarakat Bajau juga bisa mendapatkan perlindungan hukum,” harapnya.
Sukma menceritakan bahwa ribuan nelayan Suku Bajau di Kotabaru notabene adalah nelayan kecil. “Nelayan kami khususnya Suku Bajau pernah berkonflik dengan nelayan besar dari Jawa, dan juga pernah berkonflik dengan perusahaan besar di Kotabaru,” ungkapnya.
Itu masa lalu. Menurutnya, kini yang dihadapi para nelayan adalah bahan bakar bersubsidi untuk melaut. Suku Bajau Kotabaru juga banyak mengeluhkan nelayan luar daerah, khususnya pencari ikan dengan alat tangkap Cantrang, Kursin, Nelayan Bom, dan juga aktivitas bongkar muat pertambangan yang beroperasi di daerah Tanjung Pemancingan.
“Pada intinya POSBI di Kalsel, khususnya di Kotabaru, juga akan memfasilitasi keluhan masyarakat Bajau Samah yang rata-rata pekerjaannya adalah nelayan kecil,” tegasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief