Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kiai Amir Hasan Bondan: Penulis Banua yang Punya Dampak Besar Dalam Kepenulisan Sejarah Banjar

M Fadlan Zakiri • Kamis, 26 Desember 2024 | 11:11 WIB
WARTAWAN: Kiai Amir Hasan bin Kiai Bondan Kejawan.
WARTAWAN: Kiai Amir Hasan bin Kiai Bondan Kejawan.

Tahulah Pian, Banua ternyata pernah punya penulis sekaligus wartawan, yang punya pengaruh besar terhadap penulisan sejarah masyarakat Banjar.

Namanya adalah Kiai Amir Hasan bin Kiai Bondan Kejawan, yang lahir di Marabahan pada 10 Februari 1882.

Sayang, belum ada catatan sejarah terkait kapan Amir Hasan Kiai Bondan meninggal dunia.
Meski demikian, namanya cukup dikenal oleh masyarakat. Terutama para akademisi dan sejarawan Banua.

Bahkan namanya diabadikan untuk penamaan gedung aula di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, yakni Aula 1 Hasan Bondan.

Bukan tanpa sebab, kemasyhuran namanya ini karena pengetahuan dan karya dari Amir Hasan Bondan, yang merupakan seorang pemerhati sejarah serta penulis buku-buku sejarah Kalimantan.

Dalam buku Ensiklopedi Tokoh Sejarah Lokal Banjar, Kiai Amir Hasan bin Kiai Bondan termasuk putra Banjar pertama yang memasuki sekolah Europese Lagere School (ELS) tahun 1893. Kemudian melanjutkan ke STOVIA, namun tidak tamat.

Kendati demikian, pada tahun 1923, Amir Hasan Bondan bersama rekannya bernama dr Rusma, Gusti Citra, Kumala Ajaib, Mas Abi dan Abdullah, berhasil mendirikan organisasi Srie tahun 1923.

Organisasi Srie mempunyai Taman Bacaan (Het Leesge-zelschap) dan majalah mingguan Malam Djoema’at yang ia pimpin bersama Saleh Bal’ala.

Dalam majalah ini para anggota Srie mengadakan rubrik tulisan tersendiri. Haluan dan isi tulisan mereka mulanya bertemakan keagamaan. Lambat laun isinya mengarah kepada kebangsaan.

Kemudian, Hasan Bondan juga aktif dalam kepengurusan PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang diketuai Pangeran Musa Ardi Kesuma.

Dalam menulis sejarah Kesultanan Banjar, ia masih sempat mendengar langsung silsilah raja-raja Banjar dari Pangeran Hidayatullah dari tempat pengasingannya di Cianjur.

Ia banyak menyumbangkan koleksi sejarah dan budaya Banjar pada Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sebagai seorang tokoh pergerakan, budayawan dan wartawan, maka Amir Hasan Bondan sering menulis di media cetak.

Bukunya berjudul “Suluh Sedjarah Kalimantan” terbitan Fadjar Banjarmasin tahun 1953. Di kalangan Sejarawan Banjar, karyanya ini bahkan wajib dijadikan rujukan bagi siapa saja yang ingin menulis sejarah dan kebudayaan Banjar.

Di antara tulisan Hasan Bondan yang menarik adalah pernah terbit di surat kabar Indonesia Merdeka edisi Nomor 99 Tahun ke VII, edisi Sabtu 28 April 1951 berjudul “Pers di Kalimantan”. Isinya menceritakan sekilas perkembangan pergerakan tahun 1920-an.

Tulisannya itu dari tulisan sebelumnya yang pernah terbit dalam majalah dipimpinnya yakni majalah Malam Djoema’at tanggal 24 November 1927 dengan judul “Perasaan Bandjar Totok”.

Bahkan sebelum itu, pada tahun 1908, Hasan Bondan bersama Abdullah Sangaji dan Kiai Kedok juga berhasil mendirikan Sarekat Harta. Yakni sebuah organisasi yang mengumpulkan sebuah modal cukup untuk membangun perekonomian masyarakat dengan menyediakan bantuan pinjaman keuangan dan penunjukan tempat pemusatan penjual. Dengan pola yang digunakan tersebut bisa bisa mengatur, bahkan membuat tidak adanya persaingan harga di pasaran.

Pada bulan Juli 1919, menjadi salah seorang dari 4 orang Bumiputera anggota Gemeente Raad Banjarmasin.

Amir Hasan Bondan juga menjadi salah seorang pendiri Seri Budiman (1910), sebuah organisasi lokal beranggotakan para pangreh praja dan pedagang. Tujuannya mempererat hubungan silaturahmi sesama anggotanya, mempropagandakan pentingnya pengajaran dari Barat, persatuan kaum pedagang dan pertanian.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tokoh #banjarmasin #Tahulah Pian #ULM #Sejarah