Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gamalan Banjar: Sudah Ada Sejak Negara Dipa, Tak Sama Persis Dengan Gamelan yang Ada di Jawa dan Bali

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Kamis, 12 Desember 2024 | 07:05 WIB
BUDAYA: Gamalan klasik (keraton) Banjar.
BUDAYA: Gamalan klasik (keraton) Banjar.

BARABAI – Alat musik tradisional ini sudah ada sejak masa Kerajaan Dipa. Diperkirakan pada abad 14, sezaman dengan Kerajaan Majapahit.

Seniman Barabai, Lupi Anderiani menjelaskan dalam Hikayat Banjar telah dibentuk instansi Pergamalan oleh Empu Jatmika. Ditunjuk sebagai pemimpinnya Menteri Astaparani yang beranggotakan 40 orang.

Namun, dari kebiasaan lidah masyarakat Banjar, gamelan dari Bahasa Jawa berubah bunyi menjadi gamalan. Gamelan sendiri dari bahasa Jawa, “gamel” yang artinya memukul atau menabuh.

Sebelum masuknya budaya gamalan di Kerajaan Negara Dipa, masyarakat setempat sudah memiliki kebudayaan dari masa Kerajaan Nan Sarunai (Dayak) dan Kerajaan Tanjung Puri (Kerajaan Melayu).

Gamalan yang berkembang di Kalimantan Selatan memiliki karakter tersendiri yang menjadi identitasnya. “Maka dari itu gamalan tersebut dinamakan gamalan Banjar,” sebut Lupi saat menjadi narasumber workshop kebudayaan, belum lama tadi.

Masuknya gamalan di Kalimantan Selatan ada 2 tahap. Pertama, pada masa Kerajaan Negara Dipa pada abad 14 hingga masa Kerajaan Negara Daha. Kedua, pada masa Kesultanan Banjar kisaran abad 15.

Amir Hasan Kiai Bondan menceritakan dalam buku Suluh Sedjarah Kalimantan (Bandjarmasin, 1925-1953), pada masa tersebut Kesultanan Banjar mengirimkan 40 orang nayaga atau para penabuh gamalan untuk belajar gamelan di Kesultanan Demak. Dari peristiwa tersebut, gamalan Banjar terdapat 2 versi. Gamalan pada masa Kerajaan Negara Dipa dari Kerajaan Majapahit, dan gamalan pada masa Kesultanan Banjar dibawa atau mendapat pengaruh dari gamelan Kesultanan Demak.

Gamalan Banjar menggunakan laras salindru/slendro dengan tujuh nada yang terdapat pada bilah sarun. Tujuh nada tersebut memiliki simbol dan nama-nama tersendiri. Terdapat tujuh nada inti/dasar, yaitu 6 9 B T 5 6 9 dibaca dari kiri; anam bawah, tanggu bawah, babun, tangah, lima, anam, tanggu.

Laras salindru pada gamalan Banjar tidak sama persis dengan slendro pada gamelan Jawa-Bali. Ada sedikit selisih ukuran jarak nadanya, namun masih termasuk wilayah nada slendro.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#seni #Budaya #hulu sungai tengah #musik #Tahulah Pian #Sejarah