Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tuan Guru Sapat: Lahir di Martapura, Jadi Mufti di Sumatera

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Rabu, 11 Desember 2024 | 14:49 WIB
ARSIP: Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari atau dikenal sebagai Tuan Guru Sapat dalam sebuah foto. Ia adalah mufti Kesultanan Indragiri, dan salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam
ARSIP: Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari atau dikenal sebagai Tuan Guru Sapat dalam sebuah foto. Ia adalah mufti Kesultanan Indragiri, dan salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam

Tahulah Pian? Mufti Kesultanan Indragiri, Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari adalah keturunan Syekh Arsyad al-Banjari. Ulama besar asal Kalimantan Selatan yang masyhur, pada abad ke-18 Masehi.

Ia lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1857 M. Tak hanya mewarisi ilmu agama dari leluhurnya, juga berperan penting dalam dakwah Islam di tanah Melayu.

Abdurrahman adalah putra pasangan Muhammad Afif dan Safura. Keduanya masih keturunan Syekh Arsyad al-Banjari. Saat berusia dua bulan, ibu Abdurrahman kecil wafat. Ia kemudian diasuh oleh bibinya, Sa’idah, seorang perempuan terpelajar. Di bawah asuhan bibinya, Abdurrahman belajar membaca Al-Qur’an dan berhasil mengkhatamkannya pada usia delapan tahun. Selain belajar dari keluarganya, ia juga menimba ilmu agama dari sejumlah guru di kampung halamannya.

Sekitar tahun 1877, Abdurrahman dan ayahnya merantau ke Bangka, Sumatera. Sebelum tiba, mereka singgah di Padang untuk menemui pamannya, Muhammad As’ad, yang lebih dulu merantau ke sana. Di Padang, Abdurrahman membantu pamannya sebagai tukang emas, sekaligus menuntut ilmu dari ulama setempat. Setelah tiga tahun, pamannya mengutusnya berdagang emas, perak, dan berlian ke Tapanuli. Di sana, ia juga berdakwah dan mengajarkan Sabilal-Muhtadin li al-Tafaqquh fi amr al-Din, karya datuknya, Arsyad al-Banjari.

Selama berdagang, ia mengumpulkan uang untuk belajar ke Makkah. Pada 1883, akhirnya ia berangkat ke Tanah Suci. Di sana, ia belajar dari ulama terkemuka, termasuk Syekh Bakir al-Syatta’. Bakir al-Syatta’ dikenal sebagai guru besar yang memperkokoh tradisi mazhab Syafi’i di Nusantara. Setelah belajar lima tahun di Makkah, Abdurrahman dianugerahi gelar “al-Shiddiq” oleh Bakir al-Syatta’. Ia juga diminta oleh gurunya agar gelar tersebut dicantumkan di akhir namanya.

Menurut Bayani Dahlan dkk dalam Ulama Banjar dan Karya-Karyanya, pemberian gelar ini diduga terkait dengan penguasaan Abdurrahman Shiddiq dalam ilmu-ilmu Islam yang ia tekuni serta akhlaknya yang terpuji. Abdurrahman juga pernah mengajar di Masjidil Haram setelah mendapat izin pemerintah setempat selama setahun. Pada 1890, ia memutuskan kembali ke Indonesia dan pulang ke kampung halamannya di Martapura, Kalimantan Selatan.

Setelah hampir setahun di Martapura, Abdurrahman kembali merantau ke Pulau Sumatera. Pada 1898, ia menetap di Bangka untuk berdakwah dan menulis kitab. Saat berkunjung ke Temasek (Singapura), ia bertemu Muhammad Arsyad, saudagar asal Banjar yang tinggal di Indragiri, Riau. Arsyad memintanya tinggal di Indragiri untuk membimbing masyarakat. Setelah dipertimbangkan, Abdurrahman kemudian hijrah ke Sapat—kini jadi ibu kota Kecamatan Kuala Indragiri. Ia pun membuka perkebunan dan berdakwah di sana.

Selama tujuh tahun di Sapat, Abdurrahman semakin dikenal. Banyak orang datang untuk belajar kepadanya, hingga ia dikenal sebagai Tuan Guru Sapat. Ia membuka pengajian yang kemudian menjadi pusat pendidikan Islam di daerah tersebut, sebelum akhirnya diangkat menjadi mufti di Kesultanan Indragiri. Selama menjadi mufti, ia mengembangkan ekonomi masyarakat dengan membuka perkebunan kelapa. Hasilnya digunakan untuk membangun masjid, madrasah, dan tempat tinggal santri. Gaji pribadinya dibagikan kepada yang membutuhkan, sementara kebutuhan rumah tangganya dipenuhi dari hasil kebun.

Pada 1936, ia mengundurkan diri dari jabatan mufti karena usia yang sudah lanjut. Namanya telah masyhur, tidak hanya di Indragiri, tetapi juga di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Keberadaannya dikenal luas berkat murid-muridnya yang tersebar di berbagai negeri dan kitab-kitab karangannya yang banyak beredar di Nusantara. Ia juga dikenal sebagai ulama produktif yang menulis di berbagai bidang, seperti fikih, tasawuf, akhlak, pendidikan, dan sejarah.

Tuan Guru Sapat mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk menyebarkan ajaran Islam. Setelah melakukan perjalanan dakwah ke Martapura dan Banjarmasin, ia jatuh sakit. Kondisinya terus menurun setelah itu. Pada 10 Maret 1939, ia meninggal dunia dalam usia sekitar 82 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Kampung Hidayah, Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Makamnya hingga kini menjadi tempat ziarah bagi kaum muslimin.

Editor : Arief
#Tokoh #dakwah #Banjar #Ulama