Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Telawang Banjarmasin, Jadi Saksi Sejarah Kelam Jugun Ianfu di Zaman Jepang

Riyad Dafhi Rizki • Kamis, 5 Desember 2024 | 09:57 WIB
SKETSA: Jugun Ianfu alias budak seks untuk militer Jepang.
SKETSA: Jugun Ianfu alias budak seks untuk militer Jepang.

Tahulah pian, Telawang. Kawasan yang kini ramai dengan aktivitas perdagangan di Banjarmasin. Dulunya, menyimpan kisah kelam dari masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945.

Di lokasi ini pernah berdiri sebuah asrama yang disebut Ian Jo, tempat para perempuan menjadi Jugun Ianfu—budak seks untuk militer Jepang.

Menurut dosen sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mursalin, para Jugun Ianfu di Telawang sebagian besar adalah perempuan muda dari Pulau Jawa. Mereka didatangkan dengan janji pekerjaan di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin. Namun, kenyataan yang menanti jauh dari kata manusiawi.

"Mereka tidak dibayar dan dijadikan budak seks. Selain itu, mereka lebih mudah dijadikan target karena tidak memahami kondisi dan karakteristik Banjarmasin," kata Arlong, sapaan akrab Mursalin, Rabu (4/12).

Arlong mengutip catatan sejarah dari Wajidi dalam buku Nasionalisme 3 Zaman.

Di Ian Jo, 23 perempuan—termasuk RA Soetarbini dan Mardiyem—diasramakan di bangunan yang kini menjadi Pasar Telawang dan kampung Kristen (dulu Militaireweg).

Hari-hari mereka diisi dengan kekerasan seksual tanpa peluang untuk melarikan diri atau mencari pertolongan. Menolak melayani berarti menghadapi risiko penyiksaan atau kematian. Meskipun mereka diberikan libur dua hari dalam sebulan, setiap tanggal 8 dan 20, kebebasan tetaplah mustahil. Komunikasi dan transportasi yang terbatas, serta ketakutan masyarakat setempat untuk membantu, membuat mereka sepenuhnya terisolasi.

Bahkan warga pribumi yang mencoba mendekati atau menolong Jugun Ianfu akan menghadapi hukuman berat, seperti penyiksaan atau kurungan selama enam bulan.

Tak hanya di Ian Jo, ancaman kekerasan seksual juga meluas di masyarakat. Serdadu Jepang kerap memaksa perempuan menikah untuk melayani mereka dengan ancaman senjata.

Banyak keluarga yang berusaha melindungi anak gadis mereka dengan menyembunyikan atau mendandani mereka agar terlihat tidak menarik.

"Padahal jika kelakuan tentara Jepang ini sampai diketahui oleh Kempeitai (polisi militer Jepang), mereka bisa dihukum berat. Namun, kenyataannya, banyak pelanggaran terjadi," tambah Arlong.

Dari cerita ini, Mursalin berpesan, kisah Jugun Ianfu di Telawang adalah bagian dari sejarah yang perlu diingat sebagai pengingat akan kekejaman perang dan pentingnya melindungi hak asasi manusia.

"Di balik hiruk-pikuk Pasar Telawang hari ini, jejak sejarah yang kelam tetap tersimpan sebagai saksi bisu dari masa lalu," tutup Mursalin.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#jepang #banjarmasin #Tahulah Pian #Sejarah #Penjajahan