Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Pasar Wadai Amuntai Buka Tiap Hari Di Sini

M Akbar Radar Banjarmasin • Rabu, 4 Desember 2024 | 10:10 WIB
PUSAT KULINER: Jajanan kue khas Banjar di Pasar Induk Amuntai. (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)
PUSAT KULINER: Jajanan kue khas Banjar di Pasar Induk Amuntai. (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)

Tahulah pian, ada satu lokasi khusus menjual kue atau wadai berbagai jenis warna, bentuk bahkan wadai khas Banjar. Tepatnya di dalam Pasar Induk Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Lokasinya berada di lantai satu pasar terbesar di Kota Amuntai tersebut. Pasar ini terletak di Jalan Abdul Aziz, Kelurahan Antasari, Kecamatan Amuntai Tengah.

Pasar wadai ini mulai bergeliat setiap harinya sejak pukul 05.30 sampai pukul 16.00 Wita. Warna-warni kue yang dijual pedagang mampu menghipnotis pengunjung pasar untuk membeli.

Pembeli yang mau ke markas aneka kue ini dari pintu utama pasar bisa langsung menyisir ke samping kanan maupun kiri tangga, naik ke lantai atas.

Posisi pasar wadai ini berada di tengah-tengah bangunan pasar. Ada sekitar sebelasan pedagang berjualan di pasar tersebut.

Kue yang dijual ada kue sagu panggang, roti pisang, unti, pais sagu, dan aneka kue jenis lainnya, baik yang manis maupun gurih.

Soal harga jangan diragukan, sangat terjangkau. Kue-kue di pasar tersibuk di Amuntai ini start dari harga Rp1.000 sampai Rp2.500.

Harganya tergantung jenis kue. Namun, menariknya bila ambil banyak bisa dapat potongan harga dari pedagang.

Noor sudah puluhan tahun berjualan aneka jenis kue, termasuk kue khas Banjar. “Kue favorit dicari pembeli adalah roti pisang, pais sagu, wadai cincin dan bolu kukus. Paling banyak dicari juga pais sagu dan sagu panggang, karena khas Banjar Amuntai,” ujar warga Desa Tambalangan yang sudah 30 tahun lebih berjualan kue di Pasar Induk Amuntai.

Noor menyebut kue yang dijual bukan dibuatnya sendiri. Tapi, hasil berbagai usaha buatan pengusaha kue di daerah ini. “Jadi orang nitip, saya jual. Kalau tidak laku, diambil lagi oleh pemilik kue,” terangnya.

Menurutnya, kue paling banyak laku terjadi pada saat bulan maulid Nabi Muhammad SAW. Kue-kue itu disuguhkan kepada para undangan.

Namun, kue ini kadang juga dibeli pedagang lainnya untuk dijual kembali. “Kue ada yang bisa tahan dua hari, jadi bisa dijual kembali besok. Untuk yang tahan sehari, diambil lagi oleh pembuat kue. Biasanya dijual lagi dengan harga yang lebih murah,” terangnya.

Siti saat ditemui sedang membeli kue untuk acara hajatan pindah rumah. Tidak perlu repot membuat, sebab kue yang menjadi syarat untuk syukuran semua tersedia di pasar ini.

“Beli 10 bisa dapat potongan harga. Bisa juga dapat tambahan kue jenis kue lainnya yang masih sama harga. Tempat jual kue ini memang sangat murah, rasanya juga oke,” bandingnya.

Ketua DPRD HSU, Haji Fadilah mengingatkan pasar merupakan etalase daerah dikarenakan pengunjung tidak hanya dari Kota Amuntai, ada dari luar kabupaten. Ia berharap kebersihannya dijaga. Terutama pedagang harus ikut menjaga kebersihan lapak dan kios dagangannya.

“Kehadiran pasar wadai sepanjang tahun di pasar Amuntai dapat menjadi perhatian dinas terkait untuk selalu menjaga seputar kebersihan pasar dan pasar wadai khususnya,” sarannya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tahulah Pian #Pasar Wadai #Hulu Sungai Utara #Kuliner