Tahulah pian, Surat Kabar Deli Courant edisi 24 Desember 1920, menuliskan seorang pilot untuk pertama kalinya terbang di atas Kalimantan. Pilot dari Prancis bernama Etienne Poulet lepas landas dari Surabaya ke Banjarmasin dengan pesawat perintisnya.
Poulet melakukan penerbangan ke Borneo bagian selatan, dan mendarat mulus di lapangan berpasir. Tepatnya di wilayah Soengai Taboek (Sungai Tabuk), yang berjarak sekitar 9 km dari Kota Banjarmasin.
“Inilah saksi bisu penerbangan pertama sebuah pesawat udara di Borneo (Kalimantan),” ungkap sejarawan sekaligus dosen sejarah dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur.
Semula Poulet dan rekannya bernama Jean Benoist merencanakan penerbangan antara dua benua, Eropa-Australia. Seperti diberitakan Harian Dagblad van Zuid-Holland en 's-Gravenhage edisi 24 September 1919, Poulet akan melakukan penerbangan sensasional sejauh 14.000 mil ke Australia. Jalur penerbangan yang akan dilalui adalah Roma, Salonika, Konstantinopel, Baghdad, Bushir. Kemudian ke Bombay, Calcutta, Bangkok, Singapura, Batavia ke Brisbane, Sydney dan lalu ke Melbourne.
Tetapi ternyata daya tarik wilayah Borneo sebagai wilayah di tengah hamparan kepulauan Hindia Belanda menjadi tantangan tersendiri bagi Poulet untuk menaklukkan. Padahal saat itu Banjarmasin belum memiliki lapangan pesawat representatif. “Kemudian pada tanggal 24 Desember 1920, Poulet membuat agenda ke Banjarmasin,” bebernya.
Berhubung Poulet ingin mendarat di Borneo, maka lapangan terbang dibangun dalam waktu singkat. “Lapangan di Sungai Tabuk ini dibangun dengan biaya yang relatif rendah,” cerita Mansyur.
Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, penerbangan ini juga bagian dari promosi dari Armada Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) atau Maskapai Penerbangan Kerajaan Hindia-Belanda yang hendak memberikan layanan ekspres ke Kalimantan dari Jawa.
Artinya pulau terbesar di Nusantara ini akan terhubung ke Jawa melalui udara dengan jalur udara mulai Surabaya - Bandjermasin - Hulu Sungai (Uloe Sungai) - Balikpapan dan sebaliknya.
Sebagai bagian dari iklan KNILM, Poulet diminta untuk mengemudikan pesawat terbang di atas daerah Bandjermasin. Dalam atraksi sensasionalnya, Poulet melakukan sembilan kali putaran penerbangan di atas langit Bandjermasin. Uniknya dengan penumpang bergantian, termasuk tiga wanita. Karena antusiasnya, penguasa Kota Bandjermasin saat itu, Resident Hens bahkan ikut hadir di lapangan terbang tersebut.
Penduduk juga berduyun-duyun dari semua wilayah di Kalimantan bagian selatan untuk melihat penerbang terkenal itu. Selama lima hari, ribuan orang menyemangati penerbang asal Negeri Ayam Jantan.
“Penerbangan ini dapat pujian, hingga nama Landasan Udara Bandjermasin menjadi harum di kalangan penerbang,” ujar Mansyur.
Lapangan udara di Sungai Tabuk ini kemudian tidak terpakai, berhubung lamanya proses pengurusan operasional perusahaan penerbangan yang sebelumnya berdiri di Amsterdam, yakni Amesterdam Nederlansch Indische Luchtvaart Maatshapij (NILM). Barulah pada tanggal 24 Oktober 1928 tercapai kesepakatan dan penandatanganan persetujuan kerja sama, antara pemerintahan Hindia Belanda dengan pihak NILM pada tanggal 16 Juli 1928.
Namun, realisasi penerbangan dan operasional pesawat di Borneo baru kemudian benar-benar terlaksana tahun 1936. “Kemungkinan besar karena adanya berbagai pertimbangan, akhirnya lapangan Sungai tabuk tidak dipakai, dan beralih ke lokasi lain yakni di wilayah Oelin (Landasan Ulin sekarang),” jelas Mansyur.
Editor : Arief