Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Paramasan Jadi Lokasi Persembunyian Demang Lehman dari Kejaran Belanda

M Fadlan Zakiri • Rabu, 20 November 2024 | 08:57 WIB
DERAS: Air Terjun Mandin Mangapan merupakan lokasi persembunyian Demang Lehman di Desa Paramasan Atas, Kabupaten Banjar.
DERAS: Air Terjun Mandin Mangapan merupakan lokasi persembunyian Demang Lehman di Desa Paramasan Atas, Kabupaten Banjar.

Tahulah pian, Demang Lehman sebagai salah satu tokoh perlawanan Banjar memilih salah satu lokasi di Pegunungan Meratus untuk lokasi persembunyian saat melawan Belanda. Lokasi itu berada di Paramasan.

Dua Sejarawan Kalsel, Mansyur dan Mursalin pernah melakukan penelusuran sejarah terkait perjuangan Demang Lehman di Banua.

Hasil penelusuran mereka itu kemudian dimuat dalam buku yang berjudul Demang Lehman: Lukisan Perjuangan Panglima Perang Banjar 1859-1864.

Mursalin menceritakan, sekitar tahun 1860-an, Demang Lehman dan pasukannya terus mendaki Meratus yang cukup terjal dari Gunung Madang. Bukan sekadar lari atau bersembunyi dari kejaran penjajah. Mereka melakukan hal tersebut sebagai salah satu strategi perang melawan kolonial Belanda.

Setelah menempuh perjalanan melelahkan melewati Bagandah dan sampai ke daerah pegunungan yang dikenal sebagai penghasil emas yakni Paramasan, lokasinya di atas puncak hampir sampai ke Cantung.

Posisi geografis Paramasan sangat strategis. Demang Lehman sengaja memilih daerah tersebut sebagai lokasi persembunyian.

“Beliau (Demang Lehman) mempertimbangkan posisi Paramasan yang berada di puncak dan memudahkan bubuhan Banjar dari berbagai penjuru untuk berkumpul,” jelas Mursalin.

Dari Paramasan, mereka dengan mudah menuju wilayah utara seperti Amandit, Barabai, dan Amuntai. Selain itu, mereka dengan mudah mengakses wilayah selatan seperti Martapura dan Tanah Laut, serta wilayah timur seperti Cantung dan Tanah Bumbu.

“Mereka memilih menetap dalam waktu yang lama di Paramasan karena memungkinkan bubuhan Banjar dari berbagai penjuru utara, selatan, hingga timur untuk berkumpul dan bergerak dengan mudah,” jelas sejarawan dari UIN Antasari Banjarmasin ini.

Suatu waktu, dalam persembunyian di Paramasan, Demang Lehman menuju sebuah air terjun yang sekarang bernama Mandin Mangapan. Di sana jadi tempat pertemuan antara Demang Lehman dengan Pangeran Muda dan Haji Buyasin yang telah menunggu. Mereka menetap cukup lama di sana, menyerahkan tanggung jawab kepemimpinan di daerah lain kepada para pemimpin lokal.

Di Paramasan, Demang Lehman memimpin diskusi rencana perlawanan, sambil menunggu kedatangan Pangeran Hidayatullah dari Amuntai. Mereka akhirnya melaksanakan rapat besar ketika Pangeran Hidayatullah tiba.

Di dalam rapat itu, Pangeran Hidayatullah mengangkat Gamar, Tagab Wajir, Tabib Keyan, dan Tagab Guntol untuk menjadi pimpinan perlawanan selanjutnya.

Selain itu, mereka membicarakan tentang permintaan bantuan persenjataan. Mereka mengarahkan permintaan itu kepada Kerajaan Cantung, Kusan, Manunggal, Sampanahan, Pasir, dan Kutai.

Di tengah pertemuan, tiba-tiba mereka kedatangan utusan Belanda, namanya Haji Isa. Dia datang untuk mengajak Pangeran Hidayatullah berunding di Martapura.

Haji Isa mengatakan bahwa jika usulan berunding tersebut diterima, maka Belanda akan memperlakukan dia sebagai raja yang sah. “Tentu saja Hidayatullah menolak tawaran itu, karena sangat mencurigakan,” tukas Mursalin.

Lalu, Haji Isa mendatangi Demang Lehman agar mantan Lalawangan Riam Kanan itu mau membujuk Hidayatullah berunding. Namun, Demang Lehman menolak permintaan Haji Isa. Mantan Lalawangan Riam Kanan tersebut mengatakan bahwa akan terus bertekad melawan Belanda sampai Hidayatullah dapat duduk di tahta Banjar.

Setelah rapat selesai, Pangeran Hidayatullah pergi meninggalkan Paramasan bersama Demang Lehman dan Haji Buyasin. Mereka memutuskan untuk mengiringi Pangeran Hidayatullah menuju Kesultanan Pasir.

Tekad kuat mereka di Paramasan mencerminkan semangat perjuangan Banjar yang tak pernah surut dalam melawan penjajahan. Sebagai utusan Belanda, Haji Isa kemudian melaporkan beberapa hal penting yang ia dapati dalam pertemuan itu kepada seorang Jenderal Belanda, Gustave Verspijck setelah sampai di Banjarmasin.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#belanda #Destinasi #Banjar #Tahulah Pian #air terjun #Demang Lehman #Sejarah