Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Sejarah Benteng Tabanio Dibangun Kompeni Belanda di Takisung Tanah Laut

Norsalim Yahya • Rabu, 13 November 2024 | 10:41 WIB
TINGGAL CERITA: Benteng Tabanio yang berada di Desa Tabanio, Kecamatan Takisung.
TINGGAL CERITA: Benteng Tabanio yang berada di Desa Tabanio, Kecamatan Takisung.

Tahulah pian, Benteng Tabanio terletak di Desa Tabanio, Kecamatan Takisung, Tanah Laut. Tabanio sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat luas yang mendiami Kerajaan Banjar.

Pada masa itu, Tabanio merupakan daerah yang strategis baik untuk perdagangan seperti perkebunan lada, perikanan, dan pertambangan emas. Selain itu, juga sebagai daerah pertahanan, sehingga membuat para pedagang asing tertarik untuk mengembangkan usaha perdagangan mereka di Tabanio.

Distrik Tabanio dulu dikenal dengan nama Afdeeling Tabanio yang merupakan bekas distrik (kawedanan) bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Tanah Laut pada zaman kolonial Hindia Belanda dahulu.

Berita keunggulan Desa Tabanio tidak luput dari perhatian Kompeni Belanda, sehingga mereka memutuskan untuk segera mendirikan sebuah benteng di daerah tersebut.

Pada abad ke-18, tanggal 6 Juli 1779, ditandatanganinya satu perjanjian antara Kesultanan Banjar dan VOC. Di perjanjian itu VOC diberi monopoli atas perdagangan di Banjar. Salah satu klausul perjanjian tersebut adalah termuat hak VOC untuk membangun sebuah benteng.

“Akhirnya pada tahun 1789, didirikanlah Benteng Tabanio (Fort Tabanio),” ucap sejarawan sekaligus Kepala Bappeda Tala, Ismail Fahmi.

Benteng ini dibangun dengan tujuan ganda. Demi kepentingan penguasaan ekonomi, dan juga penguasaan wilayah secara politis.

Banyaknya benteng-benteng yang didirikan Belanda menyebabkan munculnya ketidaksenangan penduduk terhadap Belanda.

Akhirnya membawa ketidakpuasan dan pecahnya Perang Banjar, yang ditandai dengan penyerangan Benteng Pengaron di bawah pimpinan Pangeran Antasari pada tanggal 28 April 1859, dan berakhir pada Januari 1905 dengan gugur Pangeran Mohammad Seman.

Fahmi menceritakan pada bulan Agustus 1859, Haji Buyasin yang mengikuti Demang Leman dan Kyai Langlang beserta beberapa pasukan menyerang Benteng Tabanio, dan berhasil merebutnya.
Bahkan pemimpin Belanda yang bernama Mauritz tewas beserta beberapa tentara Belanda.

“Kekalahan tersebut membuat Kompeni Belanda memutuskan untuk mengerahkan kekuatan militernya dengan menggunakan Kapal Perang Bone agar dapat kembali merebut Benteng Tabanio,” katanya.

Namun serangan Belanda tersebut masih dapat dikalahkan oleh Haji Buyasin dan pasukannya. Haji Buyasin dan pasukannya adalah pasukan yang diperintahkan oleh Pangeran Antasari untuk memimpin perang gerilya di bagian Tanah Laut (Pelaihari, Bati-Bati, Satui, Tabanio, dan seluruh pesisir serta Pantai Tanah Laut).

Belanda kembali menyusun strategi yang lebih matang. Kali ini dengan mengerahkan pasukan yang lebih besar. Akhirnya Benteng Tabanio dapat direbut kembali oleh Belanda.

Setelah dihapuskannya eksistensi Kerajaan Banjar pada 11 Juni 1860 dan berakhirnya perang Banjar pada awal abad 20 M, Benteng Tabanio tidak digunakan lagi dan ditinggalkan tanpa perawatan.

“Akhirnya dengan kondisi seperti itu Benteng Tabanio mengalami kerusakan cukup parah. Bahkan bahan bangunan bekas benteng banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, sehingga lama-kelamaan Benteng Tabanio mengalami kemusnahan,” ujarnya.

Keadaan Benteng Tabanio sekarang hanya tinggal bekas-bekas dan bertebarannya bata-bata di sekitar lokasi bekas bangunan Benteng Tabanio.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#belanda #benteng #Tanah Laut #Tahulah Pian #Sejarah