Tahulah pian, Desa Tanah Habang menyimpan cerita sejarah perjuangan yang heroik dari masa lalu. Desa ini terletak di Kecamatan Lampihong, Balangan.
Memiliki dua wilayah. Dikenal dengan nama Tanah Habang Kiri, dan Tanah Habang Kanan. Tanah Habang Kiri berada di sisi kiri Sungai Batang Balangan. Sementara Tanah Habang Kanan terletak di sisi kanan sungai tersebut.
Penentuan sisi kiri dan kanan ini didasarkan pada arah jalan, dari Amuntai menuju Paringin, atau lebih tepatnya berdasarkan aliran sungai dari hilir ke hulu. Oleh karena itu, jika seseorang bepergian dari Paringin menuju Amuntai, Tanah Habang Kanan akan berada di sepanjang jalan raya, sedangkan Tanah Habang Kiri akan berada di seberang sungai.
Sejarah mencatat bahwa wilayah Tanah Habang bersama dengan Banua Lampihong dan Banua Kusambi masuk dalam Distrik Balangan pada masa pemerintahan Sultan Adam. Namun, setelah dilakukan pemekaran, wilayah Tanah Habang terbagi menjadi beberapa desa.
Tanah Habang Kiri menjadi bagian dari Desa Jimamun, Matang Lurus, dan Tanah Habang Kiri. Sedangkan Tanah Habang Kanan mencakup Desa Tampang, Kandang Jaya, Teluk Karya, dan Tanah Habang Kanan.
Namun, di balik asal-usul nama Tanah Habang, terdapat kisah heroik yang sangat berharga. Nama "Tanah Habang" dari peristiwa perjuangan pada masa Perang Banjar, saat kawasan ini menjadi medan pertempuran sengit antara pejuang Banjar dan pasukan Belanda.
Pada masa itu, wilayah Balangan, termasuk Tanah Habang, sering kali menjadi lokasi pertempuran yang menyebabkan darah tertumpah di tanah ini.
Pamong Budaya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balangan, Halianur menjelaskan bahwa Tanah Habang mendapat namanya dari peristiwa yang melibatkan dua tokoh heroik, yakni Said dan Antar. Keduanya terkenal dengan kemampuan bela diri Kuntau serta ilmu kebal dan kesaktian lainnya.
"Mereka berdua memiliki keahlian luar biasa dalam perlawanan terhadap penjajah. Ketika kapal patroli Belanda melintas di Sungai Batang Balangan, Said dan Antar menyerang kapal tersebut dan berhasil menumpas 8 pasukan Belanda, merebut senjata mereka," kata Halianur.
Setelah pertempuran itu, Said dan Antar disarankan oleh guru spiritual mereka, Kai Ungkuk, untuk bersembunyi di Pulau Buju, sebuah kawasan hutan di Desa Tanah Habang, guna menghindari serangan balasan dari pasukan Belanda.
Namun, setelah beberapa waktu, pasukan Belanda berhasil menemukan persembunyian mereka, berkat adanya pembocoran informasi. Meskipun begitu, Said dan Antar kembali menunjukkan ketangguhan mereka, berhasil mengalahkan satu kompi pasukan Belanda yang menyerbu mereka. Semua pasukan Belanda dalam konvoi tersebut tewas di tangan mereka.
Peristiwa heroik inilah yang akhirnya melatarbelakangi pemberian nama Tanah Habang. Nama "Habang" sendiri berasal dari kata "merah" dalam bahasa lokal, yang merujuk pada tanah yang menjadi merah akibat darah tumpah dalam pertempuran tersebut. Tanah Habang kini menjadi simbol perjuangan rakyat Banjar dalam mempertahankan tanah air mereka dari penjajahan.
"Nama Tanah Habang memiliki makna mendalam sebagai bukti perjuangan gigih para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Darah yang tumpah di tanah ini menjadi saksi sejarah bagi generasi berikutnya," tambah Halianur.
Kini, Desa Tanah Habang tidak hanya dikenal sebagai tempat yang kaya akan sejarah, juga menjadi simbol semangat perjuangan dan keberanian yang tak pernah padam. Nama desa ini tetap dikenang sebagai penghormatan kepada mereka yang telah mempertaruhkan nyawa demi tanah air tercinta.
Editor : Arief