Banjarmasin dikenal sebagai kota bandar perdagangan yang ramai. Namun, memiliki sejarah menarik di balik aktivitas perdagangan yang berlangsung di antara abad ke-16 dan ke-17.
Pada masa itu, penduduk Banjarmasin didominasi oleh masyarakat Tionghoa. Fakta ini diungkapkan Mursalin, dosen sejarah di Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin. Ia merujuk pada catatan Valentijn, yang menyebutkan bahwa mayoritas penduduk Banjarmasin saat itu adalah orang Tionghoa.
Mursalin juga mengutip catatan sejarawan Idwar Saleh yang menyatakan bahwa di awal abad ke-17, Banjarmasin—yang dikenal sebagai Tatas—didominasi oleh orang-orang Tionghoa yang tinggal di seberang Tatas.
"Ini menegaskan bahwa pada masa itu, Banjarmasin memang pernah menjadi pusat dominasi masyarakat Tionghoa," kata Mursalin, Minggu (3/11).
Menurut Mursalin, banyaknya masyarakat Tionghoa yang berdomisili di Banjarmasin berkaitan erat dengan tingginya produksi lada di Kerajaan Banjarmasin.
Ketika itu, kata dia, para pedagang Tionghoa tersudut. Jalur perdagangan mereka harus beralih ke Maluku melalui Makassar, dipicu oleh penguasaan Belanda dan Inggris atas perdagangan lada di Aceh dan Banten.
"Permintaan lada dari Eropa yang meningkat membuat orang Tionghoa tidak memiliki kesempatan untuk membeli lada," katanya.
Para pedagang Tionghoa pun memusatkan permintaan lada mereka ke Kerajaan Banjarmasin.
Permintaan lada ini membuat Kerajaan Banjarmasin menanam lada dengan skala yang lebih besar.
Pelabuhan Banjarmasin menjadi titik singgah yang ramai bagi pedagang dari berbagai daerah, termasuk Tionghoa serta Melayu, dan Jawa.
"Jung-jung (kapal dagang) masyarakat Tionghoa selalu datang ke Banjarmasin. Ketika pulang, jung-jung mereka pun terisi penuh oleh lada," katanya. Akibatnya, hingga akhir abad ke-16, perdagangan di kerajaan ini didominasi oleh kalangan pedagang Tionghoa.
Sejarawan di Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menambahkan pada tahun 1736, dengan izin Sultan Hamidullah (1700-1734), orang-orang Tionghoa mendirikan perkampungan di dekat Pelabuhan Tatas.
Perkampungan orang-orang Cina ini dikepalai Kapiten Cina yang setiap bulan menyerahkan sejumlah uang sewa kepada sultan. Beberapa di antara mereka dapat berkomunikasi dalam bahasa setempat.
Di samping itu, dalam keadaan mendesak, misalnya terjadi perang, kapiten wajib membantu sultan dengan meminjamkan perahu bila diperlukan.
"Terdapat sekitar 80 keluarga Cina di Tatas dan Kayu Tangi sebelum tahun 1708. Jumlah mereka terus bertambah menjadi sekitar 200 keluarga sesudah periode itu," katanya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief