Olahraga sumpitan memiliki akar yang kuat dalam budaya masyarakat Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan. Pada zaman dahulu, sumpitan bukanlah sekadar alat permainan atau olahraga, melainkan senjata utama dalam berburu dan menjaga diri.
Masyarakat adat di Kalimantan menggunakan sumpit—alat tiup panjang yang dilengkapi dengan anak sumpit (panah kecil)—untuk berburu hewan di hutan. Berbahan dasar bambu atau kayu, sumpitan dapat meluncurkan anak panah dengan kecepatan tinggi. Bahkan mampu melumpuhkan hewan buruan dengan tepat.
Kabid Pembudayaan dan Olahraga Provinsi Kalsel, Budioni mengatakan bahwa dalam perkembangannya, sumpitan beralih fungsi dari senjata berburu menjadi olahraga tradisional yang menguji ketepatan dan fokus.
"Di Kalimantan Selatan, olahraga sumpitan mulai sering dipertandingkan dalam festival budaya dan acara olahraga tradisional," ungkapnya.
Dalam kompetisi, peserta diuji kemampuannya mengenai target dengan akurasi tinggi dalam beberapa kali percobaan. Olahraga ini kini semakin diminati dan menarik perhatian, baik oleh masyarakat lokal maupun wisatawan.
Penggunaan sumpitan sebagai olahraga bukan hanya menjaga kearifan lokal, juga melatih keterampilan fisik, seperti konsentrasi dan kontrol napas.
"Di tengah era modern, olahraga sumpitan menjadi media untuk memperkenalkan tradisi Kalimantan ke kancah nasional dan internasional, sekaligus membangkitkan kebanggaan budaya lokal," tuntasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief