Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jadi Nama Rumah Sakit di Kotabaru, Siapa Sosok Pangeran Jaya Sumitra?

Jumain Radar Banjarmasin • Senin, 28 Oktober 2024 | 11:22 WIB
SKETSA: Pangeran Jaya Sumitra dinilai punya jiwa kepemimpinan yang patut dicontoh.
SKETSA: Pangeran Jaya Sumitra dinilai punya jiwa kepemimpinan yang patut dicontoh.

Di Bumi Sa-Ijaan masih banyak orang yang belum tahu siapa sosok Pangeran Jaya Sumitra. Namanya dipakai untuk Rumah Sakit Umum Daerah Kotabaru, Minggu (27/10)
Pangeran Jaya Sumitra ternyata bukan orang sembarang. Raja Pulau Laut pertama yang kepemimpinannya bisa dijadikan pedoman.

“Pangeran Jaya Sumitra sangat luar biasa. Kalau berdasarkan cerita, sosok beliau sangat dirindukan gaya kepemimpinannya,” ungkap Rudi Nugraha, budayawan Kotabaru yang pernah dapat penghargaan dari Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut.

Ketua Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut, Gusti Rendi Firmansyah menjelaskan Pangeran Jaya Sumitra masih keturunan dari Kesultanan Banjar dan Kerajaan Paser. Sumitra adalah anak dari Pangeran Haji Musa yang merupakan adik ipar dari Sultan Adam Alwasiq-billah Sultan Banjar 1825 - 1857. Pangeran H Musa dan Ratu Salamah binti Sultan Sulaiman memiliki anak yang bernama Pangeran Panji, Pangeran Muhammad Nafis, dan Pangeran Abdul Kadir. Sedangkan pernikahan Pangeran Haji Musa dengan Nyai Ambak yang masih kerabat dari Sultan Adam mempunyai anak bernama Pangeran Jaya Sumitra.

Sebelum menjadi Raja Pulau Laut, Pangeran Jaya Sumitra terlebih dahulu menjadi Raja Kusan IV pada tahun 1845.

Waktu itu penuh pergolakan dengan Belanda yang membuat Pangeran Jaya Sumitra mengambil keputusan untuk memindahkan pusat kekuasaan kerajaannya ke Pulau Laut yang ada di Salino.

Saat itu, kekuasaan yang dipegangnya meliputi Kusan dan Batulicin di bawah naungan Kerajaan Pulau Laut. “Pangeran Jaya Sumitra bisa dibilang cendekiawan, karena sangat pintar dapat dipercaya dan menguasai berbagai bahasa, baik Arab dan Belanda,” ungkap Gusti Rendi Firmansyah yang sekarang berada di Martapura, Kabupaten Banjar.

Kurang lebih setahun menjadi raja pertama di Kerajaan Pulau Laut, Pangeran Jaya Sumitra diminta pamannya Sultan Adam untuk menjadi Wajir atau penasihat dan sekretaris Kesultanan Banjar waktu itu.

Karena diminta Sultan Adam, ia sebagai Raja Pulau Laut yang berada di bawah naungan Kerajaan Banjar mengiyakan demi membantu pemerintahan di Kerajaan Banjar.

Kesultanan Banjar saat itu membutuhkan orang orang piawai dalam pemerintahan. Pangeran Jaya Sumitra yang berada di pesisir dipilih.

Saat itu, ada agenda besar yaitu Perang Banjar yang akan Meletus. Dengan segala macam persiapan, Pangeran Jaya Sumitra akhirnya masuk ke lingkungan pemerintahan Kesultanan Banjar dan menjadi penasihat.

Sedangkan di Kerajaan Pulau Laut yang dipimpinnya digantikan oleh adiknya Pangeran Abdul Kadir sebagai Raja Pulau Laut II. “Nah di sinilah sifat yang sangat patut kita teladani, Pangeran Jaya Sumitra tidak haus kekuasaan. Padahal ia mempunyai anak yang bisa saja menyerahkan tahtanya. Ia malah memilih Pangeran Abdul Kadir yang dianggap lebih kompeten dan berpengalaman di Kerajaan Kusan,” ucap Gusti Rendi salut.

Saat menjadi penasihat Kesultanan Banjar, Pangeran Jaya Sumitra terkenal dengan gaya diplomasinya yang sangat luar biasa. Ia sangat mementingkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.

Warga Kotabaru, Ihai berharap sosok Pangeran Jaya Sumitra bisa dipedomani para pemimpin berikutnya di Kotabaru. “Saya sangat berharap kita bisa meneladani sosok kepemimpinan Pangeran Jaya Sumitra di era sekarang,” katanya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Kotabaru #Banjar #Tahulah Pian #kesultanan #Sejarah