Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pemberontakan Bikin Marah Tentara Jepang, Komplotan Haga Ditangkap dan Dibantai di Banjarmasin

M Oscar Fraby • Rabu, 23 Oktober 2024 | 10:31 WIB
TENTARA JEPANG: Tentara Jepang saat itu di Lapangan Merdeka (sekarang Masjid Raya Sabilal Muhtadin) Banjarmasin.
TENTARA JEPANG: Tentara Jepang saat itu di Lapangan Merdeka (sekarang Masjid Raya Sabilal Muhtadin) Banjarmasin.

BANJARMASIN – Tahulah pian, pembantaian masyarakat di Kalimantan, termasuk di Kalsel tak hanya terjadi kepada Jugun Ianfu saat pendudukan tentara Jepang di Indonesia selama 1942-1945. Aksi keji juga dilakukan tentara Nipon itu terhadap pemerintahan Hindia Belanda, yakni komplotan B.J. Haga di Borneo Selatan.

Haga adalah Gubernur Gewest Borneo yang mempunyai dua keresidenan. Keresidenan Borneo Barat (Kalimantan Barat) dengan ibu kota Pontianak, dan Keresidenan Borneo Selatan (Kalimantan Selatan) dengan ibu kota Banjarmasin.

Mengutip tulisan peneliti budaya dan sejarah Kalsel, Wajidi Amberi dengan judul “Pembantaian Komplotan Haga di Borneo Selatan”, saat tentara Jepang memasuki Borneo Selatan melalui dua jalur, yakni dari utara dan yang tiba dengan kapal laut di pantai Jorong. Angkatan perang Belanda (KNIL) dan pemerintah sipil Belanda yang dipimpin oleh Gubernur B.J. Haga beserta keluarga dan sejumlah orang Belanda lainnya melarikan diri menuju Puruk Cahu di hulu Sungai Barito. Ia membiarkan seluruh wilayah Borneo Selatan jatuh ke tangan Jepang tanpa mendapat perlawanan apa-apa.

Sesaat sebelum berangkat menuju Puruk Cahu, Haga meminta Wali Kota Banjarmasin saat itu, Van der Meulen dan Kepala Javasche Bank Konig untuk bertahan di Banjarmasin, dan menugaskan mereka untuk menyerahkan Kota Banjarmasin kepada Jepang. Sebaliknya, AVC (Algemene Vernielings Corps) atau Korp Untuk Penghancuran berencana melakukan pembumihangusan terhadap kota agar tidak dimanfaatkan oleh Jepang.

“Pada malam Minggu tanggal 9 dan 10 Februari 1942, kota Banjarmasin menjadi lautan api. Seluruh kendaraan militer dirusak dan dijejer di Jalan Simpang Sungai Bilu. Jembatan Coen satu-satunya penghubung Jalan Ulin (kini Jalan A. Yani) ke pusat kota Banjarmasin, didinamit yang menyebabkan bunyi ledakan dahsyat menggetarkan dan terdengar di seluruh kota,” tulisnya.

Tindakan pembumihangusan itu, membuat serdadu Jepang sangat marah. Saking marahnya, beberapa pejabat Belanda yang melakukan penyambutan yakni Burgemeester Van der Meulen, Smits (Head Editor Borneo Post) dan seorang Cina, dipancung di atas sisa-sisa reruntuhan Jembatan Coen ketika kedatangan tentara Rikugun Jepang (Angkatan Darat) dari Hulu Sungai pada tanggal 13 Februari 1942.

Di pelariannya di Puruk Cahu, Gubernur Haga beserta pengikutnya tak lama. Pada awal April 1942, ia menyerahkan diri kepada penguasa militer Jepang di Banjarmasin. Dari balik penjara, Haga ketahuan mengadakan gerakan bawah tanah untuk meruntuhkan kekuasaan Jepang.

Medio Mei 1943, pemerintah Jepang mengadakan suatu konferensi rahasia. Saat itu disampaikan kabar tentang perhubungan yang disangka adanya pergerakan untuk melumpuhkan Jepang. Dengan kabar itu, Jepang mengambil keputusan untuk mengadakan aksi besar-besaran, penggeledahan, penangkapan dan sebagainya.

Pada medio Mei sampai Agustus 1943, anggota komplotan Haga yang berada di luar tahanan dilakukan penumpasan dan penangkapan besar-besaran. Haga kemudian diadili. Saat menjalani persidangan hari pertama, ia pingsan dan meninggal dunia, karena sebelumnya mendapat siksaan dan kekejaman dari Jepang.

Disebutkan Wajidi dalam tulisannya, upaya militer Jepang untuk menumpas komplotan Haga tak berhenti setelah meninggalnya Haga. Satu demi satu para pengikutnya diciduk, ditahan, disiksa, dan kemudian dibantai.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#jepang #belanda #banjarmasin #Sejarah #Penjajahan