Kata keramat sering kali dikaitkan dengan hal mistis yang berbau angker atau menyeramkan. Namun bagi masyarakat Banjar, kata tersebut maknanya adalah bertuah.
Hal itulah yang jadi landasan dalam penamaan salah satu jalan di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
Sekretaris Desa Tungkaran, Helmi menceritakan nama Jalan Keramat diambil dari asal terbentuk Desa Tungkaran pada tahun 1978. Desa dengan luas wilayah 750 hektare ini merupakan pecahan dari Kampung Keramat yang sekarang masuk wilayah administratif Kecamatan Martapura Timur.
“Jadi nama Keramat ini menandakan bahwa desa kami dulunya masuk kawasan Kampung Keramat,” ungkapnya, Rabu (16/10) siang.
Penamaan keramat tersebut juga karena banyaknya para ulama terdahulu yang bermakam di sekitar jalan tersebut. Makam-makam itu kerap kali diziarahi oleh masyarakat dari Martapura maupun luar daerah. Setidaknya ada sekitar 8 titik makam ulama yang dikeramatkan masyarakat.
“Salah satu adalah makam istri Datu Kalampaian yaitu Datu Bajut, serta anak dan menantu Datu Kelampaian yaitu Siti Fatimah dan Syekh Abdul Wahab Bugis yang ada dalam 1 kubah,” terangnya.
Ketika Guru Sekumpul masih hidup, kata Helmi, sering berkunjung ke kampung ini untuk berziarah. Dulu kampung ini terhampar perkebunan karet dan alkah kubur milik masyarakat dari desa di sekitar Kampung Keramat. Khususnya Desa Dalam Pagar.
“Makanya banyak ulama besar yang bermakam di sini,” ujar Helmi.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief