Ritual ini ada di Dayak Meratus Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin. Jadi prosesi pembuka pada aruh adat, aruh ganal, maupun aruh kecil.
Kalangkang Mantit juga sudah masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2024, dan didaftarkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tapin.
Dari naskah yang dikirim pegiat seni Tapin, MS Arif, ritual ini sering digunakan saat aruh adat di Desa Balawaian, Desa Pipitak Jaya, dan Desa Harakit di Kecamatan Piani.
Aruh ganal ialah upacara syukuran besar atau kenduri besar-besaran yang diadakan masyarakat adat Dayak Meratus setelah masa panen berakhir. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun, dan merupakan ritus berulang tahunan.
Sebagai ritual pembuka aruh ganal, Kalangkang Mantit merupakan prosesi memanjatkan doa atau bemamang yang dipimpin oleh balian (penghulu, laki-laki), didampingi pinjulang (perempuan), dan saksikan oleh masyarakat yang melaksanakan aruh.
Ritus Kalangkang Mantit ini digelar agar ritual aruh ganal yang akan dilaksanakan selanjutnya berlangsung tanpa hambatan ataupun gangguan, dan berjalan lancar.
Nama ‘kalangkang’ dari sebutan untuk jenis keranjang, dan ‘mantit’ dari nama burung yang dikenal dari legenda Dayak Meratus.
Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Meratus bahwa pada masa sebelum dunia dan langit diciptakan, dibangun pohon bercabang tiga yang merupakan tiang soko guru, disebut dengan nama tiang arasy.
Di situ terdapat seekor burung yang merupakan raja dari sekalian burung dan segala jenis burung. Burung itu namanya mantit. (Moeljono, dkk, 1985: 173). Bagi masyarakat Dayak Meratus, burung mantit ialah burung yang dapat memberi pertanda baik dan buruk. Jika burung mantit terbang dari arah kanan ke kiri, maka hal tersebut menandakan hal buruk.
Kebalikannya, jika burung mantit terbang dari arah kiri ke kanan, maka hal tersebut menandakan hal baik.
Wujud dari burung mantit digambarkan serupa seperti burung gagak, namun dengan ukuran yang tidak terlalu besar.
Pada upacara aruh ganal dibuatkanlah balainya (tempat singgah) yang disebut kalangkang, diberi makan berupa sesajian yang khusus untuk burung mantit. Persimbolan burung mantit dalam ritual Kalangkang Mantit mempunyai makna bahwa ia sebagai raja dari segala jenis burung, berperan sebagai pelindung agar usaha-usaha yang dijalankan manusia tidak menemui hambatan dan kesukaran. Selain itu, supaya dihindarkan dari gangguan segala jenis burung yang dapat merusak tanaman manusia.
Keberadaan burung mantit sangat dihormati oleh masyarakat, karena dapat menunjukkan hal baik dan menjauhkan hal yang buruk.
Pada saat masyarakat melakukan upacara aruh ganal, telah disediakan sajian untuk memanggil dan mengundang burung mantit berhadir.
Ritual Kalangkang Mantit menggunakan sebuah ancak yang dinamakan sebagai Kalangkang Mantit. Ancak tersebut dihiasi dengan daun enau muda yang berasal dari hutan sekitar, dan dipasangi kain kuning di bagian atasnya sebagai penutup, serta di bagian bawahnya diletakkan dupa dan bakul tumbo yang diisi dengan sajian.
Sajian tersebut terdiri dari lamang baruas, nasi babuluh (bambu), dan sebagainya.
Sebelum prosesi ritus Kalangkang Mantit, terlebih dahulu mempersiapkan kelengkapan ritual tersebut. Di antaranya beras kuning, dupa, lamang baruas, nasi babuluh, dan ancak Kalangkang Mantit.
Ritual Kalangkang Mantit juga dilakukan untuk membuang hal-hal negatif, sekaligus juga bertujuan untuk memanggil atau mengundang roh-roh leluhur untuk tidak mengganggu prosesi ritual aruh yang akan dilaksanakan setelahnya.
Ritual ini dilaksanakan di luar balai adat, tepatnya di depan pintu masuk ke dalam balai adat sebelah utara. Ritual ini dipimpin empat hingga enam orang. Terdiri dari balian, yang dalam struktur jabatan pada balai adat merupakan penghulu.
Ketika bemamang, balian berada pada keadaan tidak sadar atau trans, namun tidak sepenuhnya kehilangan kendali. Untuk membantu para balian ialah tugas pinjulang agar dapat mengingatkan tujuan mamangan yang dilontarkan sesuai dan dapat selesai tanpa hambatan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief