Di Hulu Sungai Utara, Kalsel, ada kampung perajin lampit alias kerajinan dari rotan. Kampung itu berada di Desa Palampitan Hilir dan Hulu.
Kampung ini sempat jaya ketika lampit menjadi komoditas ekspor yang mumpuni di era tahun 1980 dan 1990-an.
Menariknya, dulu warga di desa ini hampir semua memiliki usaha atau menjadi pekerja lampit. Kini masih ada perajin lampit yang tersisa. Tapi, tak sebanyak dulu.
Salah satunya Haji Mahran dari Desa Palampitan Hilir, Kecamatan Amuntai Tengah. Ia menjadi saksi perjalanan pasang surut pesona lampit. Tanaman rotan itu dirangkai menjadi tikar, dan bisa diolah bermacam-macam alat rumah tangga. Itu dikerjakan Mahran sejak tahun 1985.
Sudah hampir menyentuh 40 tahun. Dari lampit juga pria ini mampu menghidupi keluarganya sampai saat ini. “Lampit ini kerajinan khas masyarakat Kabupaten HSU di Desa Palampitan baik Hilir dan Hulu. Dirangkai dari jalinan batang-batang rotan untuk menjadi tikar bernilai ekonomi,” ujarnya.
Mahran mengakui tahun 80 dan 90-an, hampir seluruh warga di desa ini menjadi perajin lampit. Tapi, ia sempat banting setir karena usaha lampit sepi di awal tahun 2020. Namun kembali ke usaha ini, meski tidak sepopuler dulu. “Ini sudah jadi usaha saya. Harapan kami lampit kembali manis di pasaran, dan kembali terkenal seperti dulu,” harapnya.
Untuk orderan terkadang dua pekan atau sebulan sekali lampit dikirimnya ke Bali. Di situ sudah ada langganannya. “Ada juga yang pesan dan beli dari Amuntai, tapi tidak sebesar orderan dari Provinsi Bali,” terangnya.
Pemerhati Sejarah Lokal HSU, Adiyat Gazali Rahman mengatakan tak sedikit orang yang sukses lewat jalur lampit pada masanya. Tak heran dulu itu lebih banyak orang berwirausaha ketimbang harus menjadi abdi negara. Kilau cuan saat itu lewat usaha lampit begitu menggoda.
“Baik Desa Palampitan Hilir dan Hulu memang dikenal sebagai Kampung Lampit. Sebab warganya saat itu berkecimpung di usaha kerajinan tikar berbahan lampit,” ujarnya, Senin (30/9).
Kilau lampit mulai tergerus di akhir tahun 1998 sampai 2000. Selain dipengaruhi krisis moneter, kerajinan serupa dapat ditiru pelaku usaha lainnya. “Masa emas kerajinan lampit memang di tahun 1980 sampai akhir 1997. Kini meski ada, tak sebanyak dulu,” bandingnya.
Bahkan, warga Palampitan juga sudah banyak alih profesi. Ada yang jadi pegawai, dan usaha lainnya.
Perlu diketahui, dalam proses pembuatannya, bahan baku berupa rotan masih bisa didapatkan dari Muara Teweh, Kalteng. Selanjutnya rotan disortir sesuai kualitas dan warnanya. Ada yang agak cream sampai cokelat. Rotan dimasukkan ke mesin agar presisi dan dihaluskan permukaannya. Ukurannya juga disamakan.
Rotan yang sudah menyerupai helai disatukan secara manual sampai menjadi satu tikar lampit. Sedangkan pinggir tikar dianyam menggunakan rotan lebih kecil, dijemur, dan siap untuk dipasarkan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief