Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jukung Tambangan, Perahu Tradisional Suku Banjar Dulunya Digunakan Para Pedagang dan Bangsawan

M Idris Jian Sidik • Kamis, 26 September 2024 | 06:20 WIB

 

 

DARI KAYU: Jukung tambangan yang sudah ada sejak pertengahan abad ke-18. (dok museum troppen)
DARI KAYU: Jukung tambangan yang sudah ada sejak pertengahan abad ke-18. (dok museum troppen)

Jukung tambangan adalah sebuah perahu tradisional buatan suku Banjar dari Kalimantan Selatan. Perahu tersebut biasanya dipakai untuk transportasi sungai yang sudah ada setidaknya pertengahan abad ke-18.

Namun, perahu tersebut tak lagi terlihat di Banjarmasin sejak sekitar tahun 1950-an dan sekitar 1970-an di Sungai Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

tahuBaca Juga: Tahulah Pian, Ini Alasan Tugu Bundaran Hari Jadi Dibangun Di Desa Hamalau Hulu Sungai Selatan

Budayawan kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur menjelaskan bahwa jukung tambangan terbuat dari kayu ulin dengan ukiran jaruju melayap di dekat garis air. "Jukung ini bukanlah perahu kayu pada umumnya, karena membutuhkan lunas dalam konstruksinya. Tidak dibangun menggunakan paku besi, melainkan dengan teknik pasak," ungkap Ersa.

"Dengan teknik pasak inilah menjadi keunggulan keahlian yang pernah dimiliki pembuat perahu Banjar," tambahnya.

Lalu pada pertengahan abad ke-19, atapnya sirap dari kayu ulin digunakan. Salah satu contoh jukung tambangan itu memiliki panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter dengan kedalaman 59 sentimeter.

Fungsi jukung tambangan untuk transportasi. Sebelumnya hanya digunakan oleh pedagang, bangsawan, dan orang kaya. Sejak awal abad ke-20, secara luas sudah digunakan orang biasa untuk transportasi penumpang.

Dahulu kala, selama perang Banjar (1859-1906), jukung tambangan digunakan oleh para pejuang Banjar. Antara lain ketika mereka menyerang Belanda di Margasari pada malam 16 Desember 1861, dan digunakan untuk melarikan diri ke Sungai Jaya, anak Sungai Nagara.

 

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Muhammad Helmi
#perahu #suku banjar #Tahulah Pian