Jukung tambangan adalah sebuah perahu tradisional buatan suku Banjar dari Kalimantan Selatan. Perahu tersebut biasanya dipakai untuk transportasi sungai yang sudah ada setidaknya pertengahan abad ke-18.
Namun, perahu tersebut tak lagi terlihat di Banjarmasin sejak sekitar tahun 1950-an dan sekitar 1970-an di Sungai Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
tahuBaca Juga: Tahulah Pian, Ini Alasan Tugu Bundaran Hari Jadi Dibangun Di Desa Hamalau Hulu Sungai Selatan
Budayawan kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur menjelaskan bahwa jukung tambangan terbuat dari kayu ulin dengan ukiran jaruju melayap di dekat garis air. "Jukung ini bukanlah perahu kayu pada umumnya, karena membutuhkan lunas dalam konstruksinya. Tidak dibangun menggunakan paku besi, melainkan dengan teknik pasak," ungkap Ersa.
"Dengan teknik pasak inilah menjadi keunggulan keahlian yang pernah dimiliki pembuat perahu Banjar," tambahnya.
Lalu pada pertengahan abad ke-19, atapnya sirap dari kayu ulin digunakan. Salah satu contoh jukung tambangan itu memiliki panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter dengan kedalaman 59 sentimeter.
Fungsi jukung tambangan untuk transportasi. Sebelumnya hanya digunakan oleh pedagang, bangsawan, dan orang kaya. Sejak awal abad ke-20, secara luas sudah digunakan orang biasa untuk transportasi penumpang.
Dahulu kala, selama perang Banjar (1859-1906), jukung tambangan digunakan oleh para pejuang Banjar. Antara lain ketika mereka menyerang Belanda di Margasari pada malam 16 Desember 1861, dan digunakan untuk melarikan diri ke Sungai Jaya, anak Sungai Nagara.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Muhammad Helmi