Kotabaru terkenal dengan moto Sa-Ijaan yang penuh makna. Satu di antaranya keberagaman suku yang hidup damai dan selalu adanya musyawarah.
Suku Dayak di Kotabaru punya upacara adat yang dikenal Aruh Bawanang versi Dayak Lereng Gunung Meratus. Tepatnya di Desa Hampang, Kecamatan Hampang.
Aruh Bawanang merupakan ritualnya penganut Kaharingan sebagai rasa syukur atas hasil panen dan keselamatan. Aruh Bawanang dilakukan berkelompok selama tiga hari tiga malam. Dengan memotong hewan jenis kambing.
Prosesnya, masyarakat adat Dayak mempersiapkan upacara di Balai, baik dalam dan luar. Di situ disiapkan beragam kue, anak ayam dan kambing. Setelah itu, Balian membaca mantra untuk memanggil roh nenek moyang mereka. Selanjutnya, mereka sambil memutar dan menari diiringi musik khas Dayak, seperti gamelan, gendang dan gong.
Selesai, mereka melarutkan sesajen tadi ke sungai yang ada di dekat balai. Terakhir acara makan makan di balai.
Selama acara berlangsung hewan seperti babi dan anjing tidak boleh naik ke atas balai dengan alasan kesucian.
Ketua Umum Majelis Umat Kepercayaan Kaharingan Indonesia yang juga sebagai Panitia Aruh Bawanang Dayak Lereng Meratus di Desa Hampang, Sukirman bersyukur karena kembali bisa mengadakan Aruh Bawanang ini tanpa ada kendala. Aruh ini diadakan tiap tahun dengan dengan ritual sesuai ajaran leluhur sejak ribuan tahun yang lalu. “Kami masyarakat Dayak dan penganut Kaharingan sangat menjunjung tinggi keluhuran untuk keselamatan bagi bangsa dan dunia,” tuturnya.
Aruh Bawanang ini, jelasnya, sebagai potong tahun atau saat panen padi yang diadakan tiap Juli. “Kami berharap, Pemerintah Daerah khususnya Kotabaru memberikan sumbangsih untuk kami penganut Kaharingan,” harapnya.
Alasannya, karena kepercayaan Kaharingan sudah berlandaskan Undang-Undang Dasar dan Pancasila.
Kabid Event Pertunjukan dan Ekraf Disparpora, Rudi Nugraha menyebut Kotabaru patut bersyukur dengan kekayaan khasanah budayanya. Apalagi budaya Dayak di tiap lereng Gunung Meratus ada perbedaan. Ditambah lagi Ketua Majelis Kaharingan Indonesia ini berpusat di Kotabaru. “Kami dari Disparpora diundang dan berdiskusi dengan mereka, dan kami mengambil beberapa poin,” sebutnya.
Ke depan, lanjutnya, budaya Dayak ini akan dibuat event guna menambah daya tarik wisatawan datang ke Kotabaru, khususnya warga negara asing. “Kami sudah menjadwalkan di bulan Desember nanti, kami akan adakan Festival Budaya Dayak se-Kotabaru yang dihadiri perwakilan Dayak se-Kalimantan,” janjinya.
Festival ini dalam rangka mengangkat budaya Dayak Meratus dalam sebuah event yang menarik daya wisata. Rudi minta doa agar bisa terlaksana dengan lancer, dan ia juga sengaja menyusun jadwal setelah Pilkada agar tidak rawan ditunggangi oleh pihak manapun. “Intinya, saya mewakili Pemerintah Daerah Kotabaru akan mendukung segala bentuk kegiatan budaya dan tidak tebang pilih, karena Kotabaru ini dikenal dengan Bumi Sa-Ijaan,” tutupnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Muhammad Helmi