Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Liang Anggang, Bagaimana Sejarahnya? Sudah Ada Sejak Zaman Kesultanan dan Kolonialisme

Sheilla Farazela • Kamis, 12 September 2024 | 07:17 WIB
MASA LALU: Penambangan intan di Borneo bagian selatan 1897-1898.
MASA LALU: Penambangan intan di Borneo bagian selatan 1897-1898.

Sebagian penduduk asli Kalsel sudah tak asing lagi mendengar sebutan Liang Anggang. Ini sebuah kecamatan yang terletak di Kota Banjarbaru.

Menurut data, Kecamatan Liang Anggang merupakan satu di antara kecamatan di wilayah administratif Kota Banjarbaru yang membawahi 4 kelurahan, yaitu Landasan Ulin Tengah, Landasan Ulin Utara, Landasan Ulin Barat, dan Landasan Ulin Selatan.

Meskipun sebutan atau nama Liang Anggang juga menjadi nama desa di Kecamatan Bati-bati, Kabupaten Tanah Laut.

Namun, umumnya yang paling dikenal masyarakat adalah simpang empat Liang Anggang, titik jalan utama menghubungkan Kota Banjarmasin dengan Kota Banjarbaru ke arah Hulu Sungai hingga Kalimantan Timur. Juga akses menuju wilayah Kabupaten Tanah Laut sampai Kotabaru dan akses menuju pelabuhan utama Banjarmasin yaitu Trisakti.

Simpang empat Liang Anggang juga menjadi lokasi makam Pahlawan Nasional kebanggaan warga Kalsel yaitu Brigjen (Purn) H Hasan Basry, tepat di tengah-tengah simpang empat Liang Anggang.
Namun tahulah pian, asal muasal nama Liang Anggang tersebut? Cerita lisan yang beredar di masyarakat, Liang Anggang berasal dari kata liang (lubang) dan anggang (ranggang) yang bermakna lubang yang besar, karena daerah Liang Anggang terdapat beberapa dataran rendah berair.

Versi lainnya Liang Anggang berasal dari kata liang yang berarti lubang sarang binatang. Kemudian anggang yang menunjukkan nama burung enggang atau anggang/rangkong (buceros).

Pada wilayah Liang Anggang, menurut cerita lisan di masyarakat, dahulu terdapat banyak habitat burung anggang. Namun sekarang seiring berjalannya waktu burung anggang tersebut punah.

Sejarawan FKIP ULM, Mansyur mengatakan penelusuran sejarah wilayah Liang Anggang memang sulit karena minimnya data yang menuliskan keberadaan daerah ini.

"Liang Anggang mulai tercatat dalam Kontrak Sultan Banjar (Sultan Sulaiman) dengan Kolonial Belanda, yang ditandatangani 1 Januari 1817 dan diperbaharui 13 September 1823. Dalam perjanjian tersebut disebutkan wilayah konsesi Distrik Maluka dan sekitarnya yang sebelumnya dikuasai perwakilan Inggris di Borneo bagian selatan dan timur, Alexander Hare pada tahun 1811–1816, diambil alih pihak kolonial Hindia Belanda," ujarnya.

Daerah tersebut, sebut Mansyur, seperti Maluka, Liang Anggang, Kurau, hingga Pulau Lampai (Poeloe Lampej/Pulu-Lampei) atau Pulau Sari, serta daerah lainnya.

Pernyataan ini diperkuat Hasan Bondan dalam Suluh Sejarah Kalimantan (1952) bahwa memang terdapat tanah eigendom (konsesi) Maluka yang meliputi beberapa wilayah, satu di antaranya Liang Anggang.

"Setelah hengkangnya Inggris dari Borneo tahun 1816, wilayah konsensi Maluka yang dikuasai Alexander Hare menjadi bagian Distrik Maluka, Onderafdeeling Tanah Laut dalam pemerintahan Hindia Belanda. Pada kontrak Sultan Banjar (Sultan Sulaiman Saidullah) dengan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 4 Mei 1826 pasal 4 dituliskan bahwa Sri Paduka Sultan Adam menyerahkan beberapa wilayah kepada Raja Belanda. Di antaranya dari Taboniou (Tabanio), Tandjung Silatan (Tanjung Silat) dan ke timur sampai watas dengan Pagatan dan ke utara sampai di Kuala Maluka mudik Sungai Maluka, Selingsing, Liang Anggang, Banju Irang serta daerah lainnya," jelasnya.

Selain itu dalam kontrak, jelas Mansyur, Sri Paduka Sultan juga memerintahkan penduduk dari Desa Banju Irang, Liang Anggang, Selingsing Oedjoeng, Taluk Pulantan dan Maluka selain mematuhi perintah Sultan juga harus taat pada kebijakan Geburmin (Pemerintah Hindia Belanda) untuk berkebun lada dan kopi.

Tidak jauh berbeda dengan isi dari kontrak Sultan Adam 18 Maret 1845 yang menuliskan tentang wilayah Hindia Belanda yang bernama Kampong Liang Angan (Liang Anggang).

Diperkirakan kampung ini ada di sekitar wilayah Desa Liang Anggang Kecamatan Bati Bati sekarang. Sama halnya dengan Peta dari Hooze tahun 1893, yang melukiskan bahwa Liang Anggang termasuk Distrik Maluka. Terletak di selatan Sungai Banjoe Irang.

Sementara di wilayah Banjoe Irang, terletak di utara sebagai lokasi Tambang Batu Bara Julia Hermina yang ditambang oleh Pemerintah Hindia Belanda. "Muncul dugaan bahwa Desa Liang Anggang yang ada di Kecamatan Bati Bati lebih dahulu ada daripada penamaan Kecamatan Liang Anggang di wilayah Banjarbaru," ujarnya.

"Desa Liang Anggang sekarang bertetangga dengan Desa Banyu Irang di Kecamatan Bati Bati, Tanah Laut. Daerah Liang Anggang masa Inggris maupun masa Pemerintah Hindia Belanda cukup luas yang meliputi wilayah Kecamatan Bati Bati Tanah Laut maupun Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru sekarang," tambahnya.

Pada masa berkecamuknya Perang Banjar pada tahun 1859-1865, tentara Belanda yang kemudian membukukan catatannya tentang Perang Banjar, W.A. van Rees (1867) menuliskan adanya Kampung Liang Anggang. Ditulis dengan ejaan Kampoeng Liang Angan di sekitar Sungai Banyu Irang. Pada bagian lain dalam laporannya menuliskan Kampung Liang Anggang dengan ejaan Kampong Liangar.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#asal usul #banjarbaru #Tahulah Pian #Desa #Sejarah