TANJUNG - Abdul Rasyid, itulah namanya. Ia adalah ulama dan pejuang Islam di wilayah selatan Tabalong. Tepatnya di Benua Lawas.
Abdul Rasyid lahir di Telaga Itar, Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong sekitar tahun 1815. Ayahnya bernama Ma’ali, seorang tua yang sangat disegani di daerah tersebut.
Sejak kecil Rasyid telah memiliki sifat terpuji. Pengetahuan agama Islamnya sangat tinggi, dan kepribadiannya disegani.
Saat Rasyid dewasa, Belanda masih menjajah tanah Banua. Ia memimpin para pejuang melawan penjajah.
Karena kepiawaiannya memimpin perperangan, Abdul Rasyid mendapat gelar penghulu.
Perjuangannya dimulai setelah Belanda mengumumkan dihapuskan Kesultanan Banjar pada 11 Juli 1860.
Penghulu Rasyid membangun kubu pertahanan di Sungai Hanyar dan Pasar Arba guna menghadang pasukan Belanda menyerang Tabalong.
Bersama kawan–kawan seperjuangannya yang dipimpin Pangeran Antasari, ia menyerang pertahanan Belanda di Kota Tanjung pada 17 Agustus 1860.
Kapal Van Os dan Boni berhasil dicegat di Kampung Habau, Pasar Arba, tahun 1865. Letnan Cateau Van Rosevelt yang memimpin pasukan di kapal itu tewas ditembak sang pejuang.
Perang kembali terjadi di Sungai Hanyar dan Pasar Arba di tahun 1879. Penghulu Rasyid dan Haji Bador melawan melalui benteng buatan mereka.
Perang berkecamuk untuk menghadang kapal pasukan Belanda yang menuju Tanjung melintasi sungai. Mereka pun menang.
15 Desember 1895, Belanda mengepung Pasar Arba dengan menggunakan kapal perang Van Os dan Bone melalui Sungai Hanyar.
Waktu itu peristiwa perang sangat memilukan. Kubu pertahanan Penghulu Rasyid berhasil dibumihanguskan oleh Belanda.
Budayawan Tabalong, Masdulhak Abdi mengisahkan banyak pasukan berjatuhan sebagai kesuma bangsa. Penghulu Rasyid pun terpojok. "Namun sebelumnya pasukan penghulu berhasil menembak mati Letnan Ajudan I Cateo Van Rosevelt," cetusnya.
Di tengah terhimpitnya perjuangan, Belanda yang dibantu Tumenggung Jilan atau Jayakanti dari Tamiyang Layang Kalimantan Tengah lantas mengumumkan sayembara berhadiah seribu gram emas untuk kepala Penghulu Rasyid.
Akhir perjuangan Abdul Rasyid ketika sahabatnya sendiri, Teja Kusuma, mengkhianatinya. Tergiur hadiah. "Teja Kusuma berhasil memenggal kepala Penghulu Rasyid, dan diserahkannya ke Belanda sebagai tanda bukti," ungkapnya.
Jasad Penghulu Rasyid tanpa kepala akhirnya dimakamkan di samping Masjid Banua Lawas. Makamnya berada di sisi utara Masjid Pusaka Banua Lawas, di Desa Banua Lawas, Kabupaten Tabalong. "Sampai sekarang masih terpelihara dengan baik. Nisannya berbentuk mirip kuncup bunga terbuat dari batu," jelasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief