Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Sejarah Munculnya Wayang Topeng Carita Di Tapin Karena Ini

Rasidi Fadli • Selasa, 3 September 2024 | 11:14 WIB
PENAMPILAN: Wayang Topeng Carita yang baru mendapatkan status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
PENAMPILAN: Wayang Topeng Carita yang baru mendapatkan status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Kesenian ini asli dari Desa Lawahan Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin. Pada 2024 ini, baru mendapatkan status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kemendikbud RI. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tapin yang mengusulkannya.

Berdasarkan naskah akademik yang ditulis Jailani dan dikirimkan Pegiat Seni Tapin MS Arif, kesenian tradisi ini sejarahnya lahir dari kreativitas seorang seniman pahat, dalang, dan seorang pemain wayang Gung, Mamanda, serta Bagipang. Namanya, Janderi. Dikenal dengan panggilan Dalang Janderi.

Wayang Topeng Carita ada sejak tahun 1995. Proses terciptanya tidak terjadi secara langsung. Namun terjadi secara bertahap.

Di mulai dari pembuatan topeng-topeng yang memiliki karakter aneh, lucu, dan unik. Topeng-topeng tersebut diberi nama pantul. Sering ditampilkan pada acara resepsi perkawinan untuk hiburan, serta jadi bagian dari pelaksanaan bausung pengantin.

Saat itu, belum banyak yang tahu tentang keahlian Janderi sebagai seniman pahat. Ia lebih dikenal dengan dalang wayang purwa Banjar, sekaligus sebagai pemain wayang Gung dan Bagipang.

Hingga Janderi mendapatkan undangan tahun 1995-1996, untuk menghadiri Festival Budaya dalam rangka HUT Tapin. Ia menampilkan kesenian Topeng Pantul.

Lahirnya Wayang Topeng Carita juga termotivasi dari pertanyaan orang-orang di Pulau Jawa. Mereka mengatakan bahwa bentuk kesenian tradisi yang ada di Banjar merupakan kesenian bermuka dua.

Pernyataan tersebut terungkap karena mereka mengamati bentuk dari kesenian wayang Gung, dan membandingkan dengan bentuk-bentuk kesenian wayang orang di Pulau Jawa.

Janderi mempunyai persepsi bahwa sebutan bermuka dua yang dimaksudkan adalah dua desain wajah karakter tokoh pewayangan pada ketopong alias penutup kepala.

Persepsi lainnya bahwa sebutan bermuka dua juga berarti terdapat dua wajah pada pemain wayang Gung. Berupa desain wajah karakter tokoh pewayangan yang ada pada ketopong, dan wajah asli pemain wayang Gung.

Pernyataan inilah yang mendorong dan memotivasinya membuat topeng-topeng karakter pewayangan untuk membuktikan bahwa kesenian tradisi di Kalsel tidak bermuka dua.

Persepsi lain juga berkembang bahwa pernyataan tersebut juga sebagai ejekan. Akhirnya menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut mengandung sebuah kritikan dengan maksud bahwa bentuk kesenian tradisi khususnya wayang kesenian wayang orang di Kalsel rendah dan masih perlu dibenahi.

Hal mendasari lainnya, terciptanya topeng-topeng tersebut diawali dari suatu mimpi untuk mengarahkannya membuat topeng dengan karakter pewayangan. Di dalam mimpi tersebut, Janderi melihat rupa dari tokoh-tokoh pewayangan.

Lantas mulai merefleksikan dalam bentuk topeng. Dari situlah, Janderi mulai memberanikan diri merefleksikan rupa dari tokoh-tokoh pewayangan yang dilihat melalui mimpi ke dalam topeng-topeng karakter tokoh pewayangan.

Setelah beberapa topeng tokoh pewayangan dibuat, mulailah diperkenalkan dalam tiap pementasan untuk menghibur masyarakat. Untuk penamaannya tidak langsung disebut Wayang Topeng Carita. Ada tiga nama, yakni Topeng Carita, Wayang Carita, dan Wayang Topeng.

Namun dari saran seniman dan tokoh-tokoh masyarakat pencinta seni di Kabupaten Tapin, barulah dinamai Wayang Topeng Cerita.

Baru di tahun 1998, zaman Bupati Tapin Knach Noor Ajie untuk pertama kalinya kesenian ini dipertunjukkan. Respons masyarakat waktu itu sangat suka dan diapresiasi. Sejak saat itu, mulai dipertunjukkan bahwa sampai keluar Kabupaten Tapin.

Editoir: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#seni #Budaya #wbtb #Tapin