Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian: Sejarah Proklamasi di Borneo Selatan

Maulana Radar Banjarmasin • Rabu, 28 Agustus 2024 | 04:58 WIB
MERDEKA: Para pejuang memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Pedalaman Kalimantan.
MERDEKA: Para pejuang memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Pedalaman Kalimantan.

Tahulah pian, pada 17 Agustus 1945, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya di Jakarta. Namun, di Borneo Selatan (Kalimantan Selatan) kabar gemilang ini tak terdengar langsung ke telinga rakyat.

Di masa itu masih dalam bayang-bayang penjajahan Jepang. Sekelompok kecil pejuang di Banjarmasin dan sekitarnya berjuang keras untuk membawa berita kebebasan itu ke tanah Kalimantan.

Sejarawan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur menututurkan bahwa dalam gambaran situasi saat itu penuh dengan ketegangan dan ketidakpastian. Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan disembunyikan seperti harta karun.

"Hanya mereka yang berada di lingkaran tertentu saja mengetahui, seperti A.A Hamidhan. Tapi, dia tak leluasa karena dalam pengawasan ketat Jepang," ungkap Mansyur, kemarin (27/8).

A.A. Hamidhan adalah tokoh penting dari Banjarmasin yang menjadi pimpinan redaksi surat kabar "Borneo Simboen". Ia pulang dari Jakarta setelah menghadiri sidang-sidang penting Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Di tangannya membawa sebuah berita yang bisa mengguncang Borneo Selatan. Berupa teks Proklamasi Kemerdekaan, dan kabar bahwa Indonesia telah merdeka. Namun, untuk segera menyebarkan berita ini terhalang oleh pengawasan ketat Jepang. Hamidhan bahkan harus disembunyikan di kota kelahirannya, Rantau, demi melindungi rahasia besar itu. "Tetapi semangat kemerdekaan tak bisa dibendung," ucap Mansyur.

Sementara di Kandangan Hulu Sungai Selatan, meski di bawah bayang-bayang penjajah, para pemuda berhasil menyebarkan kabar gembira ini. Mereka mengibarkan sang Merah Putih. "Mereka membacakan teks Proklamasi di sebuah pasar malam yang diadakan Jepang," kisahnya.

Di tengah kegelapan penjajahan, api kemerdekaan mulai menyala di hati rakyat. Pada 26 Agustus 1945, setelah berbagai rintangan, berita Proklamasi akhirnya diizinkan untuk dipublikasikan melalui surat kabar "Borneo Simboen" edisi Banjarmasin.

Namun, Jepang tidak tinggal diam. Hamidhan dan beberapa tokoh pergerakan lainnya terpaksa meninggalkan Banjarmasin menuju Jawa pada awal September. Meninggalkan harapan yang mereka semai di Borneo Selatan.

Sementara di Kotabaru berita kemerdekaan justru datang lebih cepat. Tidak melalui Banjarmasin, melainkan dari pelaut-pelaut Jawa dan Sulawesi.

Tiga pemuda pelaut yang datang pada pertengahan September 1945 membawa kabar penting bahwa Indonesia sudah merdeka. "Ini adalah momen yang mengubah segalanya bagi penduduk Kotabaru," beber Mansyur.

Pertemuan demi pertemuan digelar, bendera dikibarkan, dan semangat perjuangan semakin membara. Meski terlambat, kemerdekaan akhirnya dirasakan oleh rakyat Borneo Selatan. Mereka tidak lagi hanya mendengar kabar dari jauh, tetapi mulai menyusun langkah untuk membangun Indonesia yang merdeka, dari tanah mereka sendiri.

"Inilah kisah perjuangan yang terlupakan. Di balik berita yang terlambat sampai, ada semangat tak tergoyahkan dari rakyat Borneo Selatan untuk merdeka," tutup Mansyur.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Proklamasi #kemerdekaan #banjarmasin #Tahulah Pian #Sejarah