Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Masukkiri: Tradisi Masyarakat Bugis Pagatan yang Kurang Dikenal Dibanding Mappanre Ri Tasie’e

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Senin, 19 Agustus 2024 | 08:02 WIB

 

IKUT TAMPIL: Iringan grup masukkiri masyarakat Bugis Pagatan saat menuju panggung utama mappanre ri tasi’e pada 2023 lalu.
IKUT TAMPIL: Iringan grup masukkiri masyarakat Bugis Pagatan saat menuju panggung utama mappanre ri tasi’e pada 2023 lalu.

Masyarakat Bugis Pagatan di Kecamatan Kusan Hilir, Tanah Bumbu memiliki tradisi masukkiri. Ini adalah bentuk pujian kepada Nabi Muhammad oleh masyarakat lokal.

Masukkiri biasanya dipertunjukkan saat perayaan Maulid Nabi, pernikahan, dan acara penting lain. Dalam pernikahan, masukkiri diadakan setelah akad nikah atau saat persandingan mempelai.

Kesenian ini juga mengiringi acara seperti selamatan menurunkan kapal, keberangkatan haji, tudang sipulung (diskusi), musyawarah adat, dan pesta laut tahunan mappanre ri tasie’e.

Masukkiri diawali dengan pembacaan Al-Qur’an, dilanjutkan dengan syair pujian Al Barzanji oleh grup masukkiri. Satu grup bisa lebih dari 10 orang. Mereka menabuh rebana sambil merapal pantun dan syair dalam bahasa Bugis Pagatan.

“Tradisi ini bertujuan mendapatkan keberkahan dari Al-Qur’an, selawat, dan asmaulhusna, serta memastikan acara berjalan lancar,” jelas Dosen Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur.

Sayangnya, masukkiri kurang dikenal dibandingkan mappanre ri tasie’e. Banyak orang Bugis Pagatan, terutama generasi muda, tidak mengetahui kesenian ini. Jumlah grup masukkiri kian sedikit, dan anggotanya mayoritas orang tua.

Pemerintah daerah pun berupaya menghidupkan masukkiri dengan menampilkannya dalam berbagai kegiatan, mengadakan perlombaan antar kelompok, dan membina grup masukkiri. Upaya ini diharapkan menjaga kesenian ini agar tidak punah.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#seni #Budaya #Tanah Bumbu #Bugis