Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Landasan Udara Bandjermasin Dulu Pernah Ada di Sungai Tabuk Kabupaten Banjar

M Fadlan Zakiri • Rabu, 14 Agustus 2024 | 10:14 WIB
Pesawat Caudron G-III dengan pilot dari Prancis, Etienne Poulet di lapangan udara Bandjermasin (Sungai Tabuk) tahun 1920.
Pesawat Caudron G-III dengan pilot dari Prancis, Etienne Poulet di lapangan udara Bandjermasin (Sungai Tabuk) tahun 1920.

MARTAPURA - Tak banyak yang mengetahui bahwa pernah ada lapangan terbang di wilayah Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Namanya adalah Lapangan Udara Bandjermasin.

Padahal lapangan terbang tersebut sangat terkenal ketika Banua masih berada dalam masa penjajahan kolonial Belanda.

Dikabarkan, lokasi yang pernah jadi landasan pacu Pesawat Caudron G-III tersebut, sekarang berubah menjadi lapangan sepak bola. Lokasinya tepat berada di belakang eks-Kantor Kecamatan Sungai Tabuk.

Meski hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, cerita tentang Lapangan Udara Bandjermasin ini masih bertahan di kalangan masyarakat asli Sungai Tabuk.

Salah satunya adalah Iska. Pria berusia 55 tahun itu, mengaku pernah mendengar kisah dari ayahnya dan para tetua di Desa Sungai Tabuk Keramat. Lokasi yang saat ini disebut warga dengan nama Lapangan Bola Pasir Putih itu, dulunya adalah landasan pacu pesawat.

Cerita tersebut dikuatkan dengan adanya temuan tumpukan besi yang mirip bangkai sayap pesawat terbang.

“Saya lupa tahun berapa itu. Yang jelas waktu saya masih SD, warga sini dapat besi berukuran besar yang bentuknya sangat mirip dengan sayap pesawat,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Selasa (13/8) sore.

Tumpukan besi itu, kata Iska, ditemukan dalam kondisi usang terkubur dalam tanah oleh pekerja yang membangunan Kantor Camat Sungai Tabuk.

“Waktu itu ada tukang menggali tanah buat memasang pondasi. Kalau tidak salah tidak sampai dua meter, mereka terhenti gara-gara ada besi yang menghalangi galian,” ujarnya.

Karena penasaran, warga dan para pekerja di sana kemudian mengeluarkan lempengan besi tersebut, hingga akhirnya muncul bentuk sayap pesawat.

“Jumlah lempengan besinya (bangkai sayap pesawat, red) banyak. Dan itu ditumpuk jadi satu, supaya pembangunan bisa berjalan lancar,” kata Iska.

Sayangnya, semua tumpukan besi berkarat itu sudah tidak ada lagi, karena dijual oleh warga ke pengepul besi bekas. Namun, ia mewajari hal tersebut karena pengaruh masih minimnya kesadaran terkait pentingnya sejarah.

“Karena dianggap besi tak bertuan, jadi habis dijual. Apalagi waktu itu harga jual kiloan besi bekas cukup tinggi,” tukasnya.

Penuturan Iska tersebut sejalan dengan penjelasan dari Sejarawan Kalsel, Masyur.
Dosen Prodi Ilmu Pendidikan Sejarah di FKIP ULM ini membenarkan bahwa sejarah memang mencatat pernah ada lapangan terbang sederhana di Sungai Tabuk, bernama Landasan Udara Bandjermasin.

Bahkan lapangan terbang tersebut jadi saksi bisu penerbangan pertama sebuah pesawat udara di langit Borneo (Kalimantan).

“Walaupun tempat pendaratannya terpencil, keberadaan area yang difungsikan sebagai lapangan terbang dipuji para penerbang internasional,” ungkap Mansyur.
Lapangan Udara Bandjermasin ini lahir pada ada awal abad 20. Tepatnya setelah diawali dengan penerbangan-penerbangan sipil perintis.

Semakin berkembangnya teknologi penerbangan mendorong sejumlah tokoh penting, terutama yang berasal dari kalangan pengusaha besar di Hindia Belanda, untuk berpartisipasi dalam kegiatan penerbangan udara sipil yang menunjang kegiatannya.

Salah seorang di antaranya adalah MF Onnen yang mengajukan suatu konsesi mendirikan perusahaan penerbangan sipil kepada pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908, yang diulangi kembali pada tahun 1919.

Namun usulan itu ditolak dengan alasan pemerintah belum percaya akan manfaatnya, terutama menyangkut masalah ekonomi perusahaan. Terutama mengenai modal yang diperlukan.
Sebelum akhirnya diresmikan tanggal 1 November 1928, Armada Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) atau Maskapai Penerbangan Kerajaan Hindia-Belanda akan memberikan Layanan ekspres ke Kalimantan dari Jawa.

Artinya pulau terbesar di Nusantara ini akan terhubung ke Jawa melalui udara, dengan jalur udara mulai Surabaya - Bandjermasin - Hulu Sungai (Uloe Sungai) - Balikpapan dan sebaliknya.

Untuk rintisan armada KNILM inilah kemudian dicari lokasi untuk dijadikan lapangan udara dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. “Hasilnya mereka dapat lokasi yang cocok, yakni di Sungai Tabuk,” ungkap Mansyur.

Sebagai bagian dari iklan KNILM, seorang penerbang terkenal asal Prancis, bernama Poulet, diminta untuk mengemudikan pesawat terbang di atas daerah Bandjermasin. Pendaratan dilakukan daerah berpasir di Sungei-Taboek, 12 kilometer dari Bandjermasin.

Dalam atraksi sensasionalnya, Poulet melakukan sembilan kali putaran penerbangan di atas langit Bandjermasin. Uniknya dengan penumpang bergantian, termasuk tiga wanita.

Karena antusiasnya, penguasa Kota Bandjermasin, Resident Hens bahkan ikut hadir di lapangan terbang tersebut.

Penduduk berduyun-duyun dari semua wilayah di Kalimantan bagian selatan untuk melihat penerbang terkenal itu. Selama lima hari, ribuan orang menyemangati penerbang asal Negeri Ayam Jantan. “Penerbangan ini dapat pujian, hingga nama Landasan Udara Bandjermasin menjadi harum di kalangan penerbang,” ujar Mansyur.

Lapangan terbang di Sungai Tabuk mulai dibangun tahun 1920-an, dengan biaya yang relatif rendah. Layanan penerbangan Jawa-Kalimantan dan sekitarnya merupakan prioritas utama untuk mencapai pembangunan yang lebih cepat dan memancing wisatawan untuk menikmati indahnya Pulau Kalimantan.

Lapangan udara di Sungai Tabuk ini kemudian tidak terpakai, berhubung lamanya proses pengurusan operasional perusahaan penerbangan yang sebelumnya berdiri di Amsterdam, yakni Amesterdam Nederlansch Indische Luchtvaart Maatshapij (NILM).

Barulah pada tanggal 24 Oktober 1928 tercapai kesepakatan dan penandatanganan persetujuan kerja sama, antara pemerintahan Hindia Belanda dengan pihak NILM pada tanggal 16 Juli 1928.

Namun, realisasi penerbangan dan operasional pesawat di Borneo baru kemudian benar-benar terlaksana tahun 1936.

“Kemungkinan besar karena adanya berbagai pertimbangan, akhirnya lapangan Sungai tabuk tidak dipakai, dan beralih ke lokasi lain yakni di wilayah Oelin (Landasan Ulin sekarang),” jelas Mansyur

Dalam artikel Liegveld Oelin, Bandjermasin 1936”, menuliskan pada bulan Februari 1936, Bandara Oelin Banjarmasin dibuka. Kemudian rute penerbangan pertama dijadwalkan dari Banjarmasin ke Balikpapan dan Jawa dengan armada pesawat Douglas.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#bandara #Tahulah Pian #pesawat #Sejarah