Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Nipponisasi Ala Tentara Jepang Terjadi di Banjarmasin, Ini Perubahannya

M Oscar Fraby • Rabu, 17 Juli 2024 | 10:49 WIB
MENGUASAI: Tentara Jepang saat di Lapangan Merdeka. Sekarang menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
MENGUASAI: Tentara Jepang saat di Lapangan Merdeka. Sekarang menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.

Tahulah pian, setelah tentara Belanda meninggalkan Indonesia, dan masuknya tentara Jepang ke Borneo Selatan, banyak perubahan yang terjadi. Ini seiring Jepang melakukan politik Nipponisasi di berbagai bidang kehidupan.

Nipponisasi didukung oleh dominasi, mobilisasi, dan kontrol yang dilakukan tentara pendudukan Jepang. Mengakibatkan berbagai pranata masyarakat yang berkaitan dengan politik dan pemerintahan, sosial budaya dan kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi dan perdagangan. Bahkan, kehidupan pers mengalami perubahan yang drastis.

Guru Besar Emeritus, Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), M.P Lambut menyebut bahwa Nipponisasi oleh Jepang di semua aspek kehidupan selama 3,5 tahun telah menghapuskan nyaris semua peninggalan Belanda yang dibangun selama 350 tahun. 

Semua orang di Kalimantan, terangnya, tiba-tiba bisa mengucapkan slogan-slogan dalam bahasa Jepang pascatentara Jepang menguasai Indonesia. “Saat itu, bahasa saya bahasa Jepang, bahasa kita bahasa Jepang, bahasa Asia bahasa Jepang, dan menyanyi lagu-lagu Jepang,” ujarnya.

Ia mengatakan dalam Borneo Simboen, Selasa 11 Djanoeari 2604, di rubrik Kalimantan subrubrik “Doesoen Timoer” ditulis “Njanjian2 Nippon Tersebar Kepelosok Desa”. “Diberitakan bahwa dewasa ini ke mana sadja kita berkoendjoeng, selaloe kedengaran njanjian2 Nippon”.

Saat itu, adanya Nipponisasi, semua perkumpulan politik dan agama bahkan dilarang. Sebagai gantinya, dibentuk organisasi ala Jepang yang pergerakannya meluas sampai ke desa-desa.

“Berbagai fasilitas seperti jalan, bioskop, badan usaha, dan sejenisnya juga turut diganti dengan nama-nama Jepang,” sebutnya.

Di Banjarmasin, perubahan nama jalan diresmikan melalui sebuah upacara oleh pemerintah militer Jepang. Surat kabar Kalimantan Raya pada 8 April 1942 memberitakan, “Perobahan nama-nama djalanan”. Nama-nama jalan yang diubah dengan nama Jepang.

Tidak hanya itu, melalui Nipponisasi, Jepang juga mengubah nama-nama bioskop di Banjarmasin dengan nama Jepang. Misalnya Bioskop Eldorado (nama gedung bioskop di Pasar Lama, Banjarmasin) diganti namanya menjadi Minami Borneo Gekijo (sekitar tahun 1950-an, pemiliknya Hoesein Razak bersama Muhammad Hasyim dan PGRI mendirikan bioskop dengan nama Bioskop Merdeka).

Bioskop Rex menjadi Osaka Gekijo (setelah merdeka juga berganti nama menjadi Bioskop Ria). Jepang juga mendirikan cabang-cabang Osaka Gekijo di Kandangan, Barabai, Amuntai, dan Tanjung. Mereka menayangkan film-film Jepang atau film yang mendukung propaganda perang.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#jepang #banjarmasin #Tahulah Pian #Sejarah #Penjajahan