Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Raja Pagatan Terakhir

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Selasa, 16 Juli 2024 | 16:51 WIB
RAJA TERAKHIR: Arung Abdul Rahim dengan gelar kehormatan Andi Sallo adalah raja Kerajaan Pagatan terakhir. (Foto: Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia)
RAJA TERAKHIR: Arung Abdul Rahim dengan gelar kehormatan Andi Sallo adalah raja Kerajaan Pagatan terakhir. (Foto: Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia)

Tahulah pian, Arung Abdul Rahim merupakan raja Pagatan terakhir. Raja Pagatan dengan gelar kehormatan Andi Sallo ini memerintah selama 15 tahun. Dari 1893, hingga 1908. Di akhir kekuasaannya, terjadi konflik internal Kerajaan Pagatan Kusan.

Perseteruan ini melibatkan dua saudara, Andi Sallo dan Andi Tangkung. Masing-masing mempersiapkan putranya sebagai pengganti. Andi Tangkung mengajukan Andi Iwang. Andi Sallo menyiapkan Andi Kacong.

Kedua saudara itu adalah anak Arung Daeng Mangkau, raja Pagatan kelima. Itu versi J.C. Noorlander sarjana Belanda. Adapun sumber lokal menyebut Daeng Mangkau adalah raja keempat.

Selama pemerintahannya, Daeng Mangkau didampingi oleh suaminya, Pangeran Muda Aribillah. Seorang bangsawan di Tanah Bumbu, sekaligus cucu sultan Banjar, Tamjidillah I. Dari pernikahan mereka lahir Andi Tangkung dan Andi Sallo.

Ratu Daeng Mangkau wafat pada 1883. Berhubung Andi Sallo masih belum dewasa, pemerintahan Kerajaan Pagatan dipercayakan kepada Andi Tangkung, kakak perempuannya. Namun, karena ia adalah perempuan, Andi Tangkung menyerahkan tampuk pemerintahan kepada suaminya Daeng Mahmud yang bergelar Pangeran Mangkubumi. Ketika Andi Sallo cukup umur, barulah ia resmi naik tahta.

Dalam perkembangannya, terjadi konflik internal kerajaan. Andi Sallo dan Andi Tangkung sama-sama merasa berhak atas kekuasaan. Puncaknya adalah pada 1907, atau setahun sebelum Andi Sallo wafat.

Pada 20 April 1907, Andi Sallo mengeluarkan verklaring (pernyataan) yang menyatakan Kerajaan Pagatan dan Kusan diserahkan kepada pemerintahan Kolonial Belanda. Pernyataan ini kemudian diratifikasi pada 11 Mei 1912. Penyerahan ini juga berakibat pada penghapusan Kerajaan Pagatan.

Dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur menerangkan sejak 1912 hingga 1942, wilayah Kerajaan Pagatan dan Kusan berada di bawah kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda. “Kalau sebelumnya di bawah vasal Kerajaan Banjar,” terangnya.

Berdasarkan data dari Lontara Kapitan La Mattone, Kerajaan Pagatan mulai berkuasa sejak Raja La Pangewa pada 1750, dan berakhir pada 1908 dengan wafatnya Andi Sallo. Ini berarti, Kerajaan Pagatan berdiri selama 158 tahun.

Sedangkan versi sarjana Belanda J.C. Noorlander, kekuasaan kerajaan ini dimulai pada 1761, dan berakhir pada 1912. Artinya, kerajaan ini eksis sekitar 151 tahun. Selama itu juga Kerajaan Pagatan berkontribusi besar terhadap perkembangan wilayah Pagatan.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Tahulah Pian #Tanah Bumbu #Sejarah