Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Pekauman di Banjarmasin Dulunya Rawan Kriminalitas

Endang Syarifuddin • Kamis, 11 Juli 2024 | 11:35 WIB
DI PINGGIR SUNGAI: Warga Banjarmasin mengandalkan sungai pada zaman dulu.
DI PINGGIR SUNGAI: Warga Banjarmasin mengandalkan sungai pada zaman dulu.

Warga Banjarmasin tentu tak asing dengan kawasan Pekauman. Barang kali ada yang bertanya, apakah sama dengan daerah Kauman atau Pekauman di beberapa daerah di Indonesia. Contohnya di Kampung Kauman di Yogyakarta. Kalau di sana, kawasan ini merupakan permukiman tradisional yang erat kaitannya dengan keberadaan Masjid Gedhe Kauman.

Nama kampung Kauman berasal dari kata Kaum dalam Bahasa Arab adalah Qaaimuddin artinya penegak agama. Istilah Qaaimuddin dilafalkan dalam lidah Jawa menjadi Pakauman, dan selanjutnya lebih dikenal dengan nama Kauman. Kampung Kauman juga ada di Solo. Lokasinya dekat dengan Masjid Agung Solo.

Lalu apakah Pekauman yang ada di Banjarmasin juga seperti di Jogja atau Solo? Sejarawan FKIP ULM Banjarmasin, Mansyur mengatakan di kawasan Pekauman Banjarmasin juga terdapat jalan dan gang dengan nama Islami. Sebut saja Gang Jamaah maupun Jalan Muhajirin.

Sayangnya Pekauman di Banjarmasin tidak begitu terkenal, karena menjadi kawasan kriminalitas mulai copet, mabuk-mabukan, premanisme, pencurian, prostitusi, hingga perjudian sejak tahun 1970-an.

Sumber sejarah tentang wilayah Pekauman memang sangat minim. Secara geografis, Kelurahan Pekauman berbatasan dengan Sungai Martapura-Kecamatan Banjarmasin Barat di sebelah utara.
Kemudian Kelurahan Kelayan Tengah di sebelah selatan, Sungai Martapura di sebelah barat, serta Kelurahan Kelayan Barat di sebelah timur. Pada tahun 2000, wilayah Pekauman meliputi wilayah Jalan KS Tubun, Rantauan Timur.

Lalu, kapan mulai muncul nama Pekauman, dan bagaimana perkembangannya? Mansyur menjelaskan pada masa Hindia Belanda, berdasarkan sumber Tijdschrift voor Nederlandsch Indie tahun 1836, menuliskan wilayah ini awalnya bernama Pulau Rantauan Keliling. Sebuah delta yang dikelilingi sungai Kelayan dan Sungai Martapura.

Pulau Rantauan Keliling terletak di sebelah timur Pulau Tatas, dan di sebelah selatan Pulau Kelayan. Demikian halnya dengan peta yang dibuat HP Loing di tahun 1916, hanya menuliskan adanya wilayah Rantauan Keliling Ilir. Artinya, pada tahun 1836, dapat diperkirakan belum ada nama wilayah Pekauman.

Sementara itu di Peta Kota Besar Bandjarmasin tahun 1970, wilayah Jalan Darat yang melewati Pekauman bernama Jalan Rantauan Belakang. Pada peta ini juga tidak dituliskan adanya wilayah Pekauman. Kemungkinan karena belum berstatus desa, tetapi hanya kampung, sehingga luput dari penulisan nama wilayah di peta.

Berbeda di Memori Pelaksanaan Tugas Gubernur Kalimantan Selatan Subardjo dari tahun 1970, ada tertulis nama wilayah Pekauman. Hal ini didukung data pembagian wilayah kelurahan tahun 1974. Kecamatan Banjar Selatan hanya terdiri dari 5 Desa yakni Kelayan Barat I, Kelayan Barat II, Kelayan Timur, Pemurus, dan Mantuil.

Sedangkan dalam buku kerja sama sosial kemasyarakatan di Kota Banjarmasin tahun 1982-1983, sudah terdapat nama Pekauman Barat, Kecamatan Banjar Selatan. Dari data tersebut memperlihatkan wilayah Pekauman sudah ada sejak tahun 70. “Tapi masih berupa nama kampung, belum berstatus desa. Artinya, kemungkinan nama Pekauman sudah ada sejak awal kemerdekaan,” ujarnya.

Mansyur menukil Sejarawan Banjar Hairiyadi, bahwa keberadaan nama wilayah Pekauman sudah ada jauh sejak sebelum tahun 70. Ketika beliau pertama kali menetap di Banjarmasin, Kampung Pekauman sudah ada. Walaupun memang belum berstatus desa.

Justru nama Rantauan lebih dikenal daripada Pekauman. Bernama wilayah Rantauan, karena daerah tersebut menjadi wilayah tujuan utama perantau (migran) dari wilayah Hulu Sungai untuk mengadu nasib ke Kota Banjarmasin.

Diperkirakan, nama Pekauman tidak memiliki latar belakang historis seperti wilayah Kauman di Jawa. Pasalnya tidak ditemukan wilayah agamais di kawasan ini. Kecuali di wilayah Basirih yang terkenal dengan keberadaan tokoh Habib Basirih.

Artinya nama Pekauman di Banjarmasin ada, bukan karena adanya kaum. Diduga penamaan yang diciptakan masyarakat mengandung filosofi doa, sehingga masyarakat Islam di kawasan itu bisa menjadi agamais seperti kaum imam. Makanya di kawasan tersebut muncul nama-nama jalan atau gang Islami. “Semuanya memiliki muatan filosofi doa ke arah kebaikan,” yakinnya.

Pekauman adalah nama yang muncul belakangan setelah nama Rantauan Keliling Ilir sudah ada sebelum abad ke-20. Di wilayah ini justru dikenal banyak orang Cina. “Berdasarkan Riset Dana Listiana (2011) tentang Kampung Cina Banjar di Banjarmasin, Pacinan, Pasar Baru, dan Kampung Rantauan Kuliling Ilir adalah tiga kampung Cina pertama berdiri sebelum abad ke-20 di Banjarmasin,” jelasnya.

Dalam perkembangannya setelah kemerdekaan, Pekauman pada tahun 1970 dikenal sebagai tempat makam orang-orang Cina. Namun tahun 2010, sudah menjadi permukiman penduduk.
Pada Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 1 Tahun 2010 tentang Pemekaran, Perubahan dan Pembentukan Kelurahan Dalam Daerah Kota Banjarmasin yang menuliskan di wilayah Kecamatan Banjarmasin Selatan terdapat 12 kelurahan.

“Satu di antaranya adalah Kelurahan Pekauman. Secara administratif, perda ini secara resmi mendudukkan Pekauman sebagai salah satu kelurahan di Kota Seribu Sungai,” tutup Mansyur.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#pekauman #Tahulah Pian #daerah #Sejarah