Ada satu lagi jenis pengobatan yang dimiliki oleh orang Banjar. Pengobatan ini disebut cabut angin, atau bacabut angin untuk mengobati penyakit manyamak.
Praktik cabut angin ini merupakan keahlian khusus. Biasanya didapat dari garis keturunan.
Secara kedokteran, manyamak dikenal dengan nama angin duduk. Angin duduk biasanya hilang dengan cepat. Namun, sebenarnya bisa menjadi gejala dari masalah jantung yang mengancam jiwa.
Tidak semua gejala masuk angin bisa diatasi dengan cara mengerok badan. Apalagi kalau diiringi dengan nyeri pada dada. Bisa jadi ini terjadi karena tidak ada cukup darah yang mengalir ke bagian jantung.
Gejala penyakit jantung terjadi ketika sesuatu menyumbat arteri, atau ada penurunan aliran darah di arteri yang membawa darah kaya oksigen ke jantung.
Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur mengatakan bahwa angin duduk atau manyamak biasa diobati dengan cara cabut angin. Gejala seseorang mengalami manyamak akan merasakan sakit pada bagian tubuhnya, sampai terasa menusuk-nusuk dan sakit saat menarik napas.
Orang Banjar meyakini bahwa menyamak disebabkan oleh angin yang bersarang di tubuh. Apabila belum dikeluarkan, maka angin itu menekan bagian dalam tubuh hingga terasa sakit. Biasa sakitnya di bagian dada menusuk hingga ke belakang. Bila tidak segera dibuang, maka bisa saja membawa umur (meninggal, red), jelasnya.
Cara pengobatan cabut angin umumnya memakai daun sirsak atau sirih. Ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Orang yang bisa mencabut angin akan melakukan gerakan menggores-goreskan jarinya di atas daun tersebut. Uniknya, meski hanya digores-gores ringan, si pasien akan merasa sangat kesakitan dan akan keluar tanda merah bekas goresan. Bagian tubuh yang bergores pun bisa berpindah, tergantung penglihatan orang yang mengobati, katanya.
Di beberapa kasus, Ersa juga mengatakan ada yang menggunakan sabun sebagai media membantu cabut angin. Dioleskan, kemudian dipijat pelan untuk membuang anginnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Muhammad Helmi