Tidak banyak yang tahu, jika lapangan sepak bola di Banjarmasin menjamur di tahun 70-an. Mulai Lapangan Merdeka di area Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Lapangan Gagah Lurus di Teluk Kelayan, Lapangan Pelajar Mulawarman di Kompleks Pelajar Mulawarman, dan masih ada belasan lapangan antar kampung (tarkam) lainnya.
Meski demikian, belum ada lapangan yang memenuhi standar stadion saat itu. Karena itu, awal tahun 1970, Pemerintah Daerah Tingkat I (sekarang Pemprov Kalsel) mulai membangun stadion.
Sejarawan Banua, Mansyur mengatakan lokasi yang dipilih pemda adalah tanah lapang bekas sungai mengering dengan hamparan gabuk atau limbah sisa potongan kayu di kawasan Jalan Jafri Zamzam, Banjarmasin Tengah.
Sekitar tahun 1974, stadion representatif tersebut selesai dibangun. Lapangan sepak bola itu menggunakan rumput lumayan bagus pada masa itu. Di stadion ini juga ada tribun, lintasan atletik, arena lompat jauh, dan lainnya. “Stadion itu diresmikan Gubernur Kalsel H Soebardjo. Beliau yang memberi nama 17 Mei,” jelasnya.
Nama 17 Mei diambil dari sejarah perjuangan rakyat Kalsel dalam ikut mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Tanggal tersebut juga dikenal sebagai tanggal berdirinya ALRI Divisi IV Kalimantan yang dipimpin Brigjen H Hasan Basry (pahlawan nasional dari Kalsel),” terangnya.
Pada tahun 1985, stadion kebanggaan Banjarmasin, dan bahkan di Kalsel itu kembali mengalami renovasi. Peresmiannya dilakukan Gubernur Kalsel HM Said yang dimeriahkan pertandingan persahabatan segitiga antara Persiba Balikpapan, Peseban Banjarmasin, dan Bentoel Galatama.
Sebelumnya stadion tersebut dikelola KONI Kalsel. Melalui SK Gubernur Kalsel Nomor 82/Kes tanggal 10 Mei 1978, pengelolaan dan penggunaan stadion tersebut diserahkan kepada Peseban. “Serah terima dari KONI Kalsel kepada Peseban ini dilakukan pada Juli 1978,” jelasnya.
Seiring terus naiknya animo masyarakat untuk datang ke stadion guna menyaksikan pertandingan, Stadion 17 Mei kembali direnovasi tahun 1981.
Kali ini sekeliling stadion dibuatkan tembok pengaman. Sedangkan tribun ditambah di bagian barat pada sisi kiri dan kanan dengan kapasitas 2.000 tempat duduk. Peresmian hasil renovasi tahap dua ini dilakukan pada 28 Oktober 1985 oleh Gubernur HM Said.
Kemudian, dengan Surat Keputusan Gubernur Kalsel Nomor 046 Tahun 1989 tertanggal 11 Februari 1989, kewenangan pengelolaan Stadion 17 Mei yang tadinya dipegang Peseban dipindahkan ke bawah wewenang Komda PSSI Kalsel yang kala itu dipimpin H Abdussamad Sulaiman HB.
Pemindahan kewenangan pengelolaan ini untuk mendukung eksistensi Barito Putera Galatama yang berdiri pada 21 April 1988.
Sekitar 1995, stadion kebanggaan urang Banua ini kembali direnovasi. Kali ini dukungan dana datang dari PT Barito Timber Group, perusahaan kayu yang pada masa itu sedang berjaya.
“Bantuan tersebut merupakan hadiah atas prestasi fenomenal PS Barito Putera yang berhasil menembus semifinal Liga Dunhill I,” ungkap Mansyur.
Sayangnya, langkah Barito Putera berhenti sampai di semifinal saja. Dalam laga melawan Persib Bandung, Bandung Raya, dan Petro Kimia Putra itu, Barito Putra gagal melangkah ke final.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief