Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Ini Asal Usul Nama Dalam Pagar di Martapura

Sheilla Farazela • Selasa, 4 Juni 2024 | 10:26 WIB
ZAMAN DULU: Masjid Tuhfaturroghibin Dalam Pagar zaman dulu (KITLV).
ZAMAN DULU: Masjid Tuhfaturroghibin Dalam Pagar zaman dulu (KITLV).

Tahulah pian, penamaan Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar lekat dengan sejarah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Ustaz Fadlan menceritakan dahulunya desa ini merupakan tempat tinggal Datu Kelampayan, yang diberikan sebidang tanah luas oleh Kesultanan Banjar pada saat itu. “Dari sebidang tanah itu beliau pakai untuk bercocok tanam dan mengajarkan ilmu agama,” ucapnya kepada Radar Banjarmasin, Senin (3/6).

Ustaz Fadlan menuturkan sebidang tanah tersebut kemudian dipagari oleh Syekh Muhammad Arsyad untuk membatasi tanah yang diberikan kepadanya. “Pagar itu dari kayu-kayu yang ada di sekitar sana saja,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, kawasan dipagari oleh Datu Kelampayan kemudian banyak didatangi masyarakat yang ingin menimba ilmu agama.

Setiap kali orang ingin ke sana, selalu menyebutnya dengan nama Dalam Pagar. Akhirnya melekat sebutan tersebut di kalangan masyarakat. “Jadi mereka bilang mau ke Dalam Pagar, dari Dalam Pagar, dan melekat hingga saat ini menjadi sebuah nama desa,” ungkapnya.

Ustaz Fadlan memperkirakan letak tanah yang ditempati Datu Kelampayan saat ini berada di Desa Dalam Pagar Ulun. “Di tikungan itu sepertinya,” tunjuknya.

Soalnya desa ini beberapa kali pemekaran. Desa Dalam Pagar yang awalnya itu di sana (Dalam Pagar Ulu, red). Sedangkan di sini cuma karena pemerintahan desanya saja, jadi dibuat tetap namanya,” jelasnya.

Di desa tersebut juga banyak terlahir pemikiran-pemikiran Syekh Muhammad Arsyad yang mencetus berbagai kitab. Di antaranya Sabilal Muhtadin, Risalah Ushuluddin, Tuhfatur Ragibin, Ilmu Falaq, dan banyak lagi kitab-kitab karangan ulama Martapura ini.

Selain itu, di tempat tersebut juga lahir keturunan-keturunan Syekh Muhammad Arsyad, seperti Syekh Syihabuddin (makamnya diperkirakan berada di Pekan Baru, Riau), Syekh Abdussamad di Marabahan, Syekh Muhammad Arsyad (Pagatan, Tanah Bumbu), Qadhi Abu Thalhah (Tenggarong), Syekh Muhammad Thayyib (Datu Taniran, Kandangan), Syekh Junaid (Berau, Kalimantan Utara).

Ada juga melahirkan ulama besar yang tersebar di Kalimantan bahkan hingga ke luar daerah, termasuk luar negeri, seperti Malaysia, Fatani dan sebagainya. Salah satunya adalah Syekh Abdurrahman Shiddiq Al Banjari yang terkenal dengan panggilan Datu Sapat Tambilahan sebagai Mufti di Kesultanan Indragiri

"Tuan Guru Zainal Ilmi, beliau lahir di Dalam Pagar, dan banyak berguru kepada ulama dalam pagar, seperti KH Ismail, KH Ahmad Nawawi, KH Khalid, dan banyak lagi. Beliau memiliki hubungan khusus dengan Syekh Abdurrahman Shiddiq," sebutnya.

“Tokoh-tokoh besar ini adalah keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad, dan disebar ke berbagai daerah,” tambahnya.

Diketahui Syekh Muhammad Arsyad tutup usia pada 3 Oktober 1812 H di umur ke 102 tahun, dan dimakamkan di Desa Kelampayan Tengah, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#asal usul #Banjar #Tahulah Pian #Masjid #Ulama #Desa #islam