Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Asal Usul Nama Sungai Lauk di Seberang Kota Banjarmasin

Maulana Radar Banjarmasin • Senin, 20 Mei 2024 | 10:39 WIB
DERMAGA: Pelabuhan Feri penyeberangan ini yang menjadi tempat untuk daerah sungai Lauk, di Desa Tinggiran Luar Dua, Kecamatan Tamban Batola./
DERMAGA: Pelabuhan Feri penyeberangan ini yang menjadi tempat untuk daerah sungai Lauk, di Desa Tinggiran Luar Dua, Kecamatan Tamban Batola./

Tahulah Pian, Sungai Lauk? Nama Sungai ini berada di Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala. Ini salah satu anak Sungai Barito yang lokasinya persis berseberangan dengan Kota Banjarmasin, yaitu Kecamatan Banjarmasin Barat atau daerah Pelabuhan Banjar Raya. Daerah ini bisa juga disebut dengan Desa Tinggiran Luar Dua.

Akses transportasi terdekat melalui sungai. Dermaga feri penyeberangan persis bersampingan dengan dermaga Pelabuhan Ikan Banjar Raya. Kemudian terhubung dengan desa-desa yang ada di Kecamatan Tamban.

Konon nama Sungai Lauk diambil lantaran lokasi daerah ini banyak ikannya. Mau ikan apa saja ada di daerah ini. Gampang pula dicari. Bahkan dengan cara apapun pasti membawa pulang ikan.

"Lauk itu kan ikan. Konon itu dinamakan karena lokasi di desa ini banyak ikannya,” ungkap Kades Desa Tinggiran Luar Dua, Bahtiar, kemarin (19/5). Ikannya macam-macam. Ada saluang, haruan, sepat, papuyu dan udang. “Pokoknya apabila mencari ikan di sini selalu dapat hasil memuaskan," tambahnya.

Lokasi yang dimaksud Sungai Lauk berada di Handil 1, 2 dan 3 yang masuk dalam Desa Tinggiran Luar Dua. "Kalau Desa Tinggiran ini dulu namanya Desa Pinggiran. Kenapa? karena permukiman banyak di tepian Sungai Barito ini," bebernya.

Bahtiar teringat semasa kecil jika sepulang sekolah bersama teman sebayanya selalu mencari ikan ke hulu sungai. Mencarinya dengan menangkap langsung, tanpa menggunakan alat. "Dulu rame-rame menangkap dengan tangan saja. Kata orang, kita mengacal,” sebutnya. “Iwaknya banyak, bisa sampai penuh baskom," kenangnya.

Apalagi udang, ketika memancing selalu mendapatkan hasil yang banyak. "Satu kilo lebih kalau dapat. Hasilnya saya jual ke seberangan di daerah Pelambuan, karena di sini tidak ada pengepulnya," ingatnya. Rata-rata dulu warga di situ bekerja mencari ikan dan bertani.

Namun, permukiman semakin banyak. Pelan-pelan pabrik perusahaan seperti kayu lapis beroperasi. Masyarakat sebagian ada yang bekerja di pabrik tersebut. Ada pula mengadu nasib merantau keluar, dan beralih pekerjaan ke Banjarmasin menjadi buruh lepas atau karyawan.

Seiring waktu nama Sungai Lauk tinggal nama saja. Ikan semakin sulit dicari, lantaran ada yang merusak. Seperti menggunakan putas dan menyetrum, sehingga populasinya habis. “Sekarang kalau memancing ikan, satu jam awam mendapatkan. Dulu satu jam itu pasti banyak dapatnya," bandingnya.

Sekarang di Desa Tinggiran Luar Dua ini ada 17 RT. Sekitar 5.000 penduduk yang bermukim di daerah ini. Sebagian banyak pendatang. Ada yang dari Banjarmasin, dan beberapa daerah di Kalsel. Itu terjadi setelah beroperasinya perusahaan kayu yang berdiri di tepian Sungai Barito.

"Pokoknya kalau orang asli di sini dan sudah berumur pasti tahu bagaimana Sungai Lauk ini. Ikan dijadikan mata pencarian dan kehidupan masyarakat," katanya.

Semenjak banyak aksi mencari ikan dengan cara merusak, polisi intens memberikan imbauan dan sosialisasi di situ. "Ada dari Polsek Tamban dan Satpolairud juga sering menyosialisasikan tentang pencarian ilegal," tuntasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Transportasi #Tahulah Pian #Pelabuhan