Siapa sosok Gusti Sjamsir Alam (GSA)? Namanya dipakai menjadi nama bandara di Kotabaru, Kalsel.
Dewan Musyawarah Adat Kerajaan Pulau Laut, Bahrudin Umar sempat tercengang sambil melotot saat ditanyakan hal ini.
Pensiunan PNS di Bumi Sa-Ijaan itu lantas dengan penuh semangat menceritakan bahwa Gusti Sjamsir Alam (GSA) lahir di Tanjung Batu, Kecamatan Kelumpang Tengah pada 6 Desember 1931, dan meninggal 6 Januari 2002.
Sejak kecil pindah bersekolah ke Martapura, Kabupaten Banjar. Kemudian berkarir di TNI Angkatan Darat. GSA ini adalah dulunya seorang ABRI yang diangkat menjadi Bupati Kotabaru pada periode 1970 sampai dengan 1980. “Gusti Sjamsir Alam ini merupakan cucu dari Pangeran Arga Kusuma, raja terakhir Kerajaan Bangkalaan Dayak,” ungkap Bahrudin saat ditemui di rumahnya, Selasa (14/5) sore.
Raja terakhir ini memiliki anak perempuan yang kawin dengan Gusti Ibrahim dari Amuntai keturunan dari Kerajaan Banjar.
Pada tahun tahun 1947, Presiden Soekarno menunjuk Muhammad Noor menjadi Gubernur Kalimantan Selatan. Pada tahun 1956, Kalimantan Timur berdiri jadi provinsi baru. Namun hanya memiliki tiga wilayah. Samarinda, Balikpapan dan Kutai Kartanegara. Paser masuk dalam wilayah Kalimantan Timur, dan baru menjadi Kabupaten Paser pada 1961.
GSA menjadi Bupati Kotabaru di wilayah Kalimantan tenggara. Berbatasan dari Tanjung Selatan Pelaihari, sampai dengan Paser Kaltim.
Saat pertama kali menjabat sebagai Bupati Kotabaru, bandara di wilayahnya belum ada. Di satu sisi, Kotabaru adalah daerah yang terjauh di Kalsel. Belum ada sarana jalan darat waktu itu.
“Kalau mau ke Banjarmasin pasti menggunakan jalur laut. Itupun tidak setiap saat adanya,” ungkapnya.
Atas dasar kondisi itulah, GSA yang berlatar belakang militer dengan pangkat terakhir Kolonel ini punya ide untuk membangunkan sarana transportasi jalur udara.
Akhirnya pada 1978, GSA berhasil membangun Bandara Stagen. Mulai saat itu akses masyarakat Kotabaru ke Banjarmasin lebih cepat dengan menggunakan pesawat.
Pada tahun 80-an, jalan darat dibangun. Itu di akhir masa jabatan GSA.
Singkat cerita di tahun 2000-an, di zaman Bupati Sjachrani Mataja mengubah nama bandara ini menjadi Bandara Gusti Sjamsir Alam sebagai bentuk penghargaan, karena bupati sebagai penggagas dan perintis bandara.
Bahrudin menyayangkan arsip sejarah di Kotabaru sangat kurang masalah sejarah. Khususnya mengenai kerajaan. “Terkait cerita ini juga kami dapatkan dengan cara berkomunikasi dengan zuriat yang diceritakan turun temurun,” tutupnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief