Ada pemandangan unik saat berkunjung ke Pasar Ahad, Kertak Hanyar, Jalan A Yani km 7, Minggu (12/5) tadi. Si hitam legam, buah keranji terjual di salah satu lapak. Sudah pernah coba?
Keranji adalah buah endemik di hutan hujan tropis. Tak terkecuali di Indonesia. Di Kalsel sendiri, buah ini tumbuh liar di hutan Hulu Sungai.
Buah keranji juga kerap dijumpai di Kalimantan Tengah dengan sebutan ja’an. Ini buah musiman, tak selalu ada kecuali kalau memang sudah musimnya. “Biasanya berbuah sekali dalam setahun,” beber Ratna, pedagang keranji di Pasar Ahad.
Ratna sendiri memperoleh keranji dari kawasan Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST). Dipasok oleh pedagang buah musiman, yang kemudian ia jual kembali di Banjarmasin.
Harga jual buah ini Rp10.000 per cangkir. Biasa dibeli oleh para perantau yang bermukim di Banjarmasin. “Juga dibeli oleh mereka yang penasaran dengan rasanya,” ujar Ratna.
Buah keranji juga disebut buah asam, karena rasanya sedikit kecut. Padahal, keranji tak selalu begitu. Jika beruntung, buah ini justru manis. Tergantung pohon dan tingkat kematangannya saja.
Kulit hitamnya tipis dan mudah pecah. Tekstur daging buahnya tipis dan kering. Berwarna jingga kecokelatan. Bijinya tunggal dan mengkilap. Kita cukup makan bagian dagingnya saja.
Rasanya ringan, cara memakannya pun tak ribet. Buah ini cocok jadi camilan. Sama seperti mencamil kuaci. “Buah ini enak untuk dicamil-camil. Kayak mengucup permen,” sebutnya.
Keranji masuk dalam keluarga polong-polongan. Nama ilmiahnya Dialium indum. Berukuran kecil hingga sebesar anggur.
Dari berbagai artikel menyebutkan, keranji memiliki khasiat bagi kesehatan. Karena buah ini mengandung vitamin C, zat besi dan kalium. “Keranji buah yang langka. Pastikan mencoba apabila sudah menemukannya,” promo Ratna.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief