Migrasi suku Bugis membawa perkembangan industri perahu Pagatan dan Afdeeling Tanah Bumbu. Awalnya, perahu layar yang dibuat adalah Perahu Pejala—sesuai nama kampung nelayan Pejala di Pagatan.
Tidak ada catatan pasti kapan pembuatan perahu di Pagatan dimulai. Jika mengacu pada Kampung Pejala, diprediksi dimulai pada 1920, saat kampung Pejala dibuka oleh Kepala Desa La Suke.
Sebelum Kampung Pejala berdiri, orang Bugis secara perorangan di pesisir Tanah Bumbu sudah menguasai teknologi pembuatan perahu sejak abad ke-19.
Tahun 1811-1816, Alexander Hare membuat perahu besar dengan tenaga ahli khusus. Ia adalah pedagang Inggris, sekaligus raja Kerajaan Maluka di Banjarmasin.
Hare meniru teknik pembuatan perahu besar dari penduduk Kalimantan Tenggara di wilayah Selatan dan Timur pesisir. Umumnya, wilayah itu dimukimi orang-orang suku Bugis.
Berdasarkan catatan Mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada abad ke-19 Jean Chrétien Baud, Hare tidak merekrut tenaga kerja Bugis. Ia hanya mendatangkan tenaga kerja dari pantai utara Jawa.
Menurut Syarifuddin dalam Perahu Bugis Pagatan (1992), Perahu Pejala terbuat dari kayu damar putih. Ada pula Perahu Ambing yang terbuat dari kayu bungur, damar putih, dan halaban. Halaban juga digunakan untuk bahan baku arang.
Sementara bahan baku pembuatan Perahu Bugis adalah dari kayu jati atau bangkirai. Menurut Kementerian Kehutanan, kayu asli Kalimantan ini memiliki tingkat kekuatan setara kayu jati.
Namun, karena tak tahan air tawar, perahu berbahan bangkirai hanya digunakan saat melintas air asin. Dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur mengatakan perahu Bugis Pagatan dibagi berdasarkan fungsi.
Perahu sampang menjadi satu-satunya jenis perahu untuk transportasi sungai yang menghubungkan Kusan Hilir, Kusan Hulu, dan wilayah Batulicin. “Bisa juga digunakan petani ke sawah,” ujarnya.
Adapun di jalur laut Pagatan, dibuat khusus untuk keperluan tertentu sesuai fungsinya. Kapal layar besar digunakan mengarungi laut atau samudera.
Kapal itu biasanya membawa lepa-lepa sebagai sekoci yang diikat di buritan kapal. “Ini dipakai sebagai alat transportasi ke darat atau pantai saat berlabuh di suatu tempat,” katanya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief