Warga Tionghoa tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Banjarmasin. Mungkin tidak banyak yang tahu kapan mereka mulai masuk ke Tanah Banjar.
Sejarawan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur mengungkapkan kedatangan masyarakat Tionghoa ke Banjarmasin mulai terekam dalam Hikayat Banjar pada abad 17 hingga 18.
“Peran mereka dalam perdagangan sudah terjadi sejak masa Kerajaan Nagara Daha yang berpusat di Muara Bahan (Marabahan). Bahkan ketika bandar dagang pindah ke Bandar Masih sekitar tahun 1526, pedagang Tionghoa dikabarkan ikut pindah dan menetap,” katanya.
Keberadaan mereka di Banjarmasin juga dapat diketahui dari pencatat perjalanan Dinasti Ming. Dalam catatannya berjudul Dong Xi Yang Kao, mereka berangkat tahun 1618 untuk kegiatan perdagangan di Banjarmasin.
Para penulis Eropa menyatakan sejak saudagar Cina telah eksis dalam perdagangan di Banjarmasin sejak 1630. Malahan karena kalah saing, VOC meninggalkan Banjarmasin untuk orang Cina dan Inggris pada tahun 1635.
Dalam surat perjanjian 4 September 1635 antara Kesultanan Banjar dengan Belanda disebut bahwa Sultan telah melakukan ikatan kegiatan dagang dengan seorang dengan seorang kepala orang-orang Cina di Batavia sekaligus pemilik perusahaan dagang (lantjong) bernama Bencon.
“Betapa hebat dan besarnya armada dagang orang yang diduga bernama asli Souw Beng Kong. Dia adalah Kapitan Cina pertama di Batavia. Untuk menghindari kerja sama tersebut, sultan sampai mengirim utusan menemui VOC dan meminta perlindungan keamanan di Banjarmasin,” jelas dia.
Informasi kiprah mereka juga dituliskan Idwar Saleh (1982/1983), dalam cerita perjalanan Dan Beeckman tahun 1718. Orang Cina telah singgah di Banjarmasin sejak pertengahan abad ke-16 silam.
Awal abad ke-17, sebagian besar penduduk Banjarmasin adalah orang Cina. Mereka memonopoli perdagangan. Besarnya volume perdagangan para pedagang Cina juga ditunjukkan kedatangan 12 jung Tiongkok tiap tahun sejak awal abad ke-18.
Kemudian meluasnya penggunaan uang picis di Banjarmasin terlihat melalui pembelian mata uang Tiongkok oleh para pedagang Banjar di Jawa, dan penukaran ribuan rial oleh VOC. “Komoditas lada adalah incaran mereka. Komoditas tersebut dikirim ke Tiongkok,” katanya.
Gelombang kedatangan orang Tionghoa selanjutnya terjadi paruh kedua abad ke-19. Gelombang berikutnya muncul awal abad ke-20. Kedatangan selanjutnya terjadi masa Orde Lama.
Kala itu pemerintah menerapkan peraturan bagi orang Cina untuk tingal di perkotaan. Itu menyebabkan penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan, terutama dari Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah kebanyakan melakukan migrasi ke Banjarmasin.
Dari penjelasan di atas menunjukkan keberadaan warga Tionghoa di Tanah Banjar sudah lama. Bahkan kini sebagian besar orang Cina Banjar tidak paham mengenai asal usul kelompok etnisnya. Sebagian besar hanya paham bahwa mereka adalah peranakan. “Hampir semua peranakan tidak dapat lagi ditelusuri asal-usulnya. Jika asal-usul ini dapat ditelusuri, leluhur mereka tidak akan lebih lampau dari abad ke-18,” tutup Mansyur.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief