BANJARMASIN - Pada 8 Maret 2023 lalu, tirai biru yang menutupi bangunan berwarna cokelat itu dibuka. Riuh tepuk tangan pun terdengar, diiringi penampilan sinoman hadrah yang menandai diresmikannya Museum Kayuh Baimbai Banjarmasin.
Bangunan berlokasi di kawasan Muara Kelayan Banjarmasin Selatan itu adalah satu-satunya museum yang dimiliki Pemko Banjarmasin.
Tak kalah dengan bangunan museum lainnya yang ada di Kalsel, bentuk bangunan museum ini juga mengadopsi salah satu bentuk rumah khas Banjar. Rumah bertipe palimbangan.
Pada zaman dahulu, bentuk bangunan ini umumnya dihuni oleh para saudagar.
Namun, Tahulah Pian sejarah tentang bangunan Museum Kayuh Baimbai itu?
Mengacu artikel yang dipajang di ruang pengarsipan museum tersebut, bangunan itu dahulunya adalah kediaman H Basirudin. Kemudian diwariskan kepada sang anak, Syarifuddin Noor.
Pada tahun 1954, rumah itu dibeli oleh H Basirudin dari tangan seorang saudagar Cina setelah memilih pindah ke negeri asalnya lantaran merasa tidak aman dengan kondisi yang terjadi di Indonesia saat itu.
Masih mengacu artikel yang sama, selain berprofesi sebagai pedagang, H Basirudin merupakan seorang pejuang yang getol melawan penjajah Belanda.
Ia adalah cucu dari Tumenggung Ibon, sepupu dari Tumenggung Surapati, yang merupakan rekan seperjuangan Pangeran Antasari.
H Basiruddin juga terbilang akrab dengan Presiden RI Soekarno. Bahkan dari pertemuannya, ia juga diberi hadiah berupa sebilah keris kecil.
Kembali ke sejarah pembangunan museum, pada tahun 2017, lahan beserta bangunan rumah tersebut dibeli oleh Pemkot Banjarmasin.
Apakah lantas dijadikan museum? Belum. Pemkot setidaknya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangunnya.
Berdasarkan catatan Radar Banjarmasin, museum ini mulai dibangun pada bulan Juni, dan rampung pada Desember tahun 2022 lalu. Anggaran yang digelontorkan Rp3,8 miliar.
Pada prosesnya, bangunan sebelumnya itu dirobohkan total. Kemudian dibangun ulang mengacu bentuk bangunan awal.
Pertimbangannya, dari hasil kajian dan identifikasi pemkot bersama pihak terkait, bangunan yang ada dipandang kurang layak untuk dijadikan sebagai tempat kunjungan.
Dikhawatirkan, bangunan akan roboh atau miring, karena pondasi atau struktur bangunannya yang sudah tidak kuat lagi.
Seiring berjalannya waktu, kini museum yang menyimpan berbagai benda koleksi itu sudah mulai bisa dikunjungi sejak Februari 2024 tadi.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief