Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Masjid Agung Al Karomah Martapura, Datuk Landak dan Ulin yang Bercahaya

Sheilla Farazela • Kamis, 2 Mei 2024 | 05:32 WIB
Masjid Al Karomah di zaman dulu
Masjid Al Karomah di zaman dulu

BANJARMASIN - Masjid tua umumnya memiliki kisah menarik, tak terkecuali, Masjid Agung Al Karomah Martapura.

Sebelum berada di lokasinya saat ini, dahulu masjid ini berdiri di Desa Pesayangan. Persis di depan Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Malang, masjid ini justru dibakar Belanda yang melakukan penjajahan di Bumi Lambung Mangkurat pada saat itu.

Hingga akhirnya di tahun 1280 H atau 1863 M, masyarakat ingin membangun ulang Masjid Al Karomah. Tapi, dengan ukuran yang lebih besar.

Keinginan masyarakat itu direalisasikan dengan dibentuknya kepanitiaan pembangunan.
Mengacu sejarah, saat itu ada tiga orang yang ditunjuk sebagai panitia pembangunan.
Di antaranya yakni, HM Taher atau Datu Kaya, Tuan Guru H Muhammad Apip atau Datu Landak dan HM Nasir.

Pembangunan masjid ini pun dilangsungkan pada 10 Rajab 1315 H atau 5 Desember 1897 M.

Namun tahukah Anda, ada sisi lain dari proses pembangunan masjid tersebut.

Yakni ketika KH Muhammad Afif atau Datu Landak berhasil mendapatkan dan membawa empat batang kayu ulin (kayu besi) besar dan tinggi, sebagai tiang bangunan masjid yang akan didirikan.

Saat itu, rupanya sang datuk diketahui tengah mengajar seseorang yang telah menyakiti istrinya.

"Istri datuk ini sangat cantik, banyak yang suka. Tapi, karena beliau memilih Datu Landak, jadi ada yang sakit hati," tutur buyut dari Datu Landak, Muhammad Ilmi, 70 tahun.

Pengejaran dilakukan hingga ke tengah pedalaman hutan Kalimantan yang rimbun.

Lokasinya berada di antara Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Di tengah perjalanan, sang datuk bertemu dengan orang pedalaman yang berniat menjahati sang datuk. Datuk pun diancam dengan berbagai senjata tajam.

Namun saat itu, datuk memilih untuk tidak memberikan perlawanan.

"Sampai-sampai tangan beliau keduanya diikat ke dua buah batang pohon ulin yang sangat besar. Dengan senjata yang diacungkan ke arah beliau," ucap Ilmi.

Karena dianggap sudah sangat membahayakan, akhirnya datuk pun melakukan perlawanan. Dengan menarik tali yang mengikat tangannya.

"Dengan izin Allah, dua buah batang pohon itu langsung tumbang. Orang-orang pedalaman itu sampai terkejut," ujarnya.

Di saat bersamaan, orang-orang pedalaman itu langsung menyerang sang datuk. Namun rupanya, datuk tak kalah hebat.

"Orang itu, satu persatu beliau lemparkan ke atas sampai tidak diketahui di mana jatuhnya," jelasnya.

Hingga akhirnya, Datuk Landak kemudian ditantang oleh pemimpin orang pedalaman untuk uji kekuatan.

Pertarungan tersebut dikisahkan memakan waktu yang sangat lama. Serta banyak keanehan. Seperti superhero yang muncul di tayangan televisi.

"Bisa terbang dan menghilang. Tapi sebenarnya di pertarungan itu, datuk cuma main-main saja," tuturnya.

Singkat cerita, pemimpin orang pedalaman itu mengakui kekalahannya dan mengangkat Datuk Landak menjadi pemimpin bagi mereka.

"Di sana beliau menetap sangat lama. Sampai-sampai keluarga ini menyangka sudah meninggal dunia. Bakan, keluarga juga sempat hendak menggelar haul," ucapnya.

BUYUT DATUK LANDAK: Muhammad Ilmi dengan figura yang memuat foto datuknya.
BUYUT DATUK LANDAK: Muhammad Ilmi dengan figura yang memuat foto datuknya.

Hingga akhirnya, Datuk Landak tiba-tiba pulang ke rumah pada saat malam hari, persis saat hendak menggelar haul. Dan tentu, itu mengagetkan keluarga.

"Datuk datang dengan penampilan yang berbeda. Rambut gondrong, kumis dan janggut beliau juga panjang. Seperti orang yang tidak terawat," tururnya.

"Andai beliau tidak mengatakan bahwa beliau adalah HM Apip, tak ada yang tahu siapa beliau," tekannya.

"Agar tidak membuat ribut masyarakat yang hadir saat haul, beliau pun langsung dimasukkan ke dalam kamar untuk membersihkan badan," tambahnya.

Kembali ke sejarah pembuatan Masjid Al Karomah. Semasa Datuk Landak berada di pedalaman hutan Kalimantan, ia telah menandai beberapa pohon yang kuat dan besar.
Bahkan saat itu, pohon tersebut tampak mengeluarkan cahaya.

"Nah, saat datuk bersama dua orang lainnya dipercaya untuk mencari batang pohon untuk dijadikan tiang masjid. Pohon itulah yang dipakai," ucapnya.

"Batang pohon itu dihanyutkan, bukan ditarik lalu menjadi sungai Martapura, bukan. Karena sungai itu sudah ada sejak awal," tekan Ilmi.

"Cerita ini saya dapat dari ayah saya, dan ayah saya dari ayahnya kemudian sampai ke datuk," tegasnya.

Sesampainya kayu tersebut di Martapura, dibangunlah Masjid Al Karomah. Saat itu, material masjid tersebut didominasi kayu ulin.

"Beratap sirap, dinding dan lantai dari papan kayu ulin," ungkap Ilmi.

Saat ini Masjid Al Karomah telah beberapa kali menjalani renovasi, namun bangunan awal tetap dipertahankan. Posisinya di bagian dalam.

Editor: Wahyu Ramadhan

Editor : Arief
#asal usul #Banjar #Masjid #Ulama #Sejarah