PELAIHARI - Pamor Pantai Takisung telah bersinar sejak zaman Hindia Belanda.
Objek wisata yang berada di Desa Takisung, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut ini bahkan sering menjadi tempat rekreasi para noni Belanda.
Ketua Sarekat Sejarah Tanah Laut, Hanapi Yanor Tajeli menuturkan, keindahan alam yang tersaji di objek wisata inilah yang membuat para noni Belanda itu tertarik mengunjunginya.
"Di majalah wisata Tropisch Nederland yang terbit tahun 1940, menyebut bahwa Pantai Takisung menjadi salah satu pantai yang direkomendasikan," ucapnya, Selasa (30/4).
Kemudian, diperkuat dengan adanya catatan MJA Oostwoud Wijdenes. Yang menyebutkan ada beberapa pantai yang indah di Bumi Tuntung Pandang–sebutan Kabupaten Tanah Laut.
"Di situ disebutkan, pantai yang paling tersohor pada masa itu adalah Pantai Takisung," tambahnya.
Meski terkenal, Pantai Takisung kala itu belum bisa dilintasi mobil. Infrastruktur berupa jalan masih belum memadai. Bahkan masyarakatnya saat itu masih minim pendidikan dan miskin. Untuk bertahan hidup, mayoritas masyarakat bekerja sebagai pencari ikan.
Selain memiliki pemandangan alam yang indah, Pantai Takisung juga menjadi tempat persinggahan kapal-kapal yang mengangkut serdadu Belanda menuju Tabanio.
"Mereka diturunkan ke tempat-tempat pengintaian. Atau ke pesanggrahan, yakni tempat atau rumah peristirahatan milik Belanda," ungkapnya.
Lebih jauh, Hanapi juga membeberkan asal muasal penamaan Takisung. Ia mengatakan, ada dua versi berbeda tentang hal ini. Pertama mengacu buku yang berjudul Asal-Usul Nama Desa di Kecamatan Takisung.
"Takisung diambil dari nyanyian tentara Belanda. Yang sering mengucapkan kalimat Take and Song. Kalimat ini kemudian menjadi Takisung," ucapnya.
Kedua, buku berjudul Selayang Pandang Kabupaten Tanah Laut.
"Nama Takisung diambil dari nama orang Cina yakni Tan Ki Sung," pungkasnya.
Editor: Wahyu Ramadhan
Editor : Arief