Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Masjid Hasanuddin Madjedie Diambil Dari Nama Mahasiswa yang Tertembak

Maulana Radar Banjarmasin • Kamis, 18 April 2024 | 09:09 WIB
MEGAH: Masjid Hasanuddin Madjedie di Bundaran Kayutangi
MEGAH: Masjid Hasanuddin Madjedie di Bundaran Kayutangi

Tahulah Pian, Masjid Hasanuddin Madjedie merupakan masjid bersejarah. Masjid ini diambil nama dari seorang mahasiswa asal Banua yang gugur dalam aksi pada tahun 1966 silam.

Hasanuddin Madjedie adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Unlam. Pahlawan Ampera pertama di Indonesia, meninggal dunia 10 Februari 1966. Gugur kena tembakan sepulang demonstrasi dari Konsolat Republik Rakyat Tjina (RRT=RRC) di Pecinan Laut Banjarmasin.

Namanya diabadikan sebagai penghormatan masyarakat Kalsel kepada salah satu putra daerah ini. Sejarah Masjid Hasanuddin Madjedie berawal dari "Gerakan 30 September" yang merupakan klimaks dari pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang membangkitkan perlawanan sengit dari mahasiswa atau pemuda Indonesia, khususnya dan rakyat yang agamais secara menyeluruh.

Bangkitnya perlawanan patriotik dan heroik mahasiswa dalam wadah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tanggal 10 Januari 1966 di Jakarta mencanangkan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). Seperti pembubaran PKI dan ormas-ormasnya, pembubaran Kabinet 100 Menteri, dan penurunan harga sandang pangan.

Aksi ini juga telah membangkitkan mahasiswa dan pelajar di Kalsel yang tergabung dalam KAMI dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) untuk melakukan demonstrasi akbar pada tanggal 10 Februari 1966. Namun telah merenggut nyawa Hasanuddin Madjedie.

Sebagai penghargaan kepada Pahlawan Ampera pertama tersebut, Universitas Lambung Mangkurat memberikan gelar akademik Sarjana Muda Anumerta. Bahkan, untuk mengenangnya secara abadi, Rektor Universitas Lambung Mangkurat Milono pada tanggal 20 Maret 1966 mengajak beberapa tokoh mahasiswa Eksponen 66 membicarakannya, dan akhirnya menyepakati bahwa bentuk monumen peringatannya berupa musala.

Sebagai langkah awal untuk mengimplementasikan hasil musyawarah tersebut, maka 22 April 1966, Milono dalam keputusannya mengubah status kafetaria menjadi musala. Berikutnya pada 17 Juli 1966, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Divisi ALRI IV Kalimantan, status musala diubah menjadi Masjid Hasanuddin Madjedie. Pada tanggal tersebut diawali Salat Jumat dengan khatib H Aberani Sulaiman, Gubernur Kalimantan Selatan. Bertindak sebagai imam adalah Ustaz HM Rafi’ie Hamdie, salah seorang Eksponen 66.

Sejurus dengan renovasi bangunan Kampus Unlam Unit-I di Jalan Lambung Mangkurat, maka pembangunan Masjid Hasanuddin Madjedie mulai dilaksanakan di dalam kampus tersebut yang desainnya dibuat tanpa biaya oleh Dosen ITB Bandung Ir Nu'man.

Rektor Unlam HA A Malik pada 5 Februari mengeluarkan SK nomor 041 Bang/1969 untuk mengesahkan Panitia Pembina Masjid Hasanuddin Madjedie.

Pada awalnya masjid ini berada di lingkungan kampus Universitas Lambung Mangkurat. Berikutnya berlaku NKK oleh Menteri pendidikan pada periode tersebut, maka tidak diizinkan adanya masjid. Atas perjuangan H Nor Adenan Razak dan kawan-kawan serta didukung Pemprov Kalsel dan PD Bangun Banua mewakafkan sebidang tanah seluas 4.912,25 meter persegi.

Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila bersedia membangun sebuah masjid di atas tanah hibah tersebut. Berdirilah sebuah Masjid Hasanuddin Madjedie, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto selaku pembina yayasan tersebut pada 8 September 1986. Kini lokasinya di Jalan Brigjen H Hasan Basri, Bundaran Kayu Tangi, Kelurahan Pangeran, Banjarmasin Utara.

Seiring waktu, masjid ini semakin megah dan makmur. Tak jarang masjid ini menjadi persinggahan masyarakat untuk beribadah. Apalagi di bulan Ramadan dipenuhi jemaah dan mendatangkan imam dari Arab Saudi. Tak hanya itu, masjid ini juga rutin menggelar pengajian di setiap minggunya.

"Masjid ini juga memiliki lembaga pendidikan yaitu Taman Pendidikan Islam Hasanuddin Madjedie yang berupa Taman Kanak-Kanak (TKA), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan Penitipan Anak (PA)," tutup Sejarawan FKIP ULM, Mansyur.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#banjarmasin #Masjid #mahasiswa #Sejarah