Kapidaraan adalah istilah yang dipakai Urang Banjar bagi anak-anak yang mengalami sakit demam tidak biasa.
Mengutip dari laman Pustaka Banjar, istilah kapidaraan secara makna berarti mendapat “pidara” atau harus melakukan “pidara”, karena disapa atau diganggu makhluk gaib.
Bukan sembarang demam biasa, anak yang mengalami kapidaraan biasanya mengalami gejala panas hanya di setengah bagian badan. Misalnya, bagian kiri saja dari kepala sampai kaki, atau sebaliknya.
Kata pidara berasal dari nama daun bidara yang dipercaya bisa mengusir jin atau ditakuti oleh makhluk gaib. Bapidara dilakukan untuk menghilangkan kapidaraan yang berasal dari perpaduan budaya pra Islam dan pascamasuknya Islam di tanah Banjar.
Simbol yang digunakan biasa adalah bentuk tanda plus (+), atau disebut cacak burung. Simbol garis horizontal melambangkan perisai bagi si pemakai. Sedangkan garis vertikal melambangkan perlawanan terhadap makhluk yang mengganggu.
Seiring masuknya ajaran Islam, beberapa mengganti simbol dengan tanda silang (x) dengan makna serupa.
Ritual bidara biasanya dilakukan perempuan tetua kampung. “Biasanya bapidara dilakukan dengan menuliskan simbol cacak tersebut di bagian dahi, telapak tangan, punggung tangan, perut, lutut, telapak kaki, dan beberapa bagian lain yang dianggap perlu,” ucap Hajjah Erna.
Ia mengungkapkan bahan-bahan yang digunakan untuk melakukan pidara dengan kunyit yang dicampur kapur sirih. “Baru setelah itu ada doa yang diucapkan,” terangnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief